Washington, DC ā Amerika Serikat mengklaim telah mencapai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok militan Lebanon, Hezbollah. Presiden AS Donald Trump mengumumkan langsung bahwa kedua pihak setuju untuk menghentikan serangan setelah melalui perundingan tidak langsung.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut dirinya berbicara langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan melalui 'perwakilan tinggi' dengan Hezbollah. 'Kami sepakat semua tembakan akan berhenti. Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang Israel,' tulis Trump.
Kesepakatan ini menjadi langkah diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Belum ada presiden AS yang pernah berkomunikasi dengan Hezbollah, kelompok yang selama ini masuk daftar organisasi teroris oleh Washington. Isi kesepakatan mencakup penghentian serangan Hezbollah ke Israel sebagai imbalan Israel menghentikan bombardir di Beirut dan pinggiran selatannya.
Namun, Netanyahu memberikan catatan keras. Kantor PM Israel menegaskan Tel Aviv tetap punya hak untuk menyerang Beirut jika Hezbollah kembali melancarkan serangan ke wilayah Israel. 'Jika Hezbollah tidak berhenti menyerang kota dan warga kami... Israel akan menyerang target teroris di Beirut,' demikian pernyataan resmi Netanyahu.
Analisis Dampak: Kesepakatan ini menjadi angin segar di tengah eskalasi mematikan sejak Maret lalu. Data Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 3.400 warga tewas dan 10.000 terluka akibat serangan Israel. Lebih dari satu juta warga Lebanon terpaksa mengungsi. Namun, kerapuhan gencatan senjata sangat terlihatāgencatan senjata sebelumnya pada April lalu hanya bertahan 10 hari. Iran, sebagai pendukung utama Hezbollah, juga ikut bermain dengan mensyaratkan penarikan Israel dari Lebanon sebelum ada kesepakatan damai dengan AS. Situasi ini masih sangat dinamis dan bisa pecah kapan saja.