Dunia kembali dihadapkan pada ancaman krisis energi besar-besaran. Harga minyak mentah Brent sudah meroket, hampir menyentuh US$120 per barel, mendekati puncak tertinggi Juli 2008 yang kala itu mencapai US$147, atau Maret 2022 di angka US$139.
Kenaikan drastis ini dipicu oleh situasi tegang di Timur Tengah, khususnya akibat aksi Iran yang memicu penutupan Selat Hormuz — jalur vital pengiriman minyak dunia — serta serangan terhadap sejumlah infrastruktur minyak dan gas. Peneliti dari Qatar University, Nikolay Kozhanov, menyebut kondisi ini sebagai "sumbatan fisik" pasokan energi yang paling parah dalam sejarah pasar minyak global.
Menurut analisisnya, gangguan kali ini jauh berbeda dan lebih berbahaya dibandingkan krisis energi 2022 akibat invasi Rusia ke Ukraina. Dulu, sanksi dan batasan harga memang memukul Rusia, namun negara itu tetap bisa menjual minyaknya ke rute lain. Artinya, pasokan global masih ada, hanya berpindah jalur. Kini, masalahnya fundamental: sebagian besar pasokan minyak dan gas benar-benar terputus dari pasar.
Data dari Badan Energi Internasional (IEA) sangat mencemaskan. Aliran minyak via Selat Hormuz anjlok drastis dari 20 juta barel per hari, hanya tersisa sedikit saja. Akibatnya, produsen minyak di Teluk terpaksa memangkas produksi hingga minimal 10 juta barel per hari karena kapasitas penyimpanan mereka sudah penuh dan jalur distribusi tersumbat.
Langkah IEA yang melepas 400 juta barel cadangan minyak global pun diragukan bisa banyak membantu. Sebab, pelepasan cadangan ini tidak mengatasi akar masalah utamanya, yaitu terputusnya pasokan secara fisik. Jika situasi ini berlanjut, masyarakat global harus bersiap menghadapi kenaikan harga BBM, biaya listrik, inflasi yang membengkak, dan potensi perlambatan ekonomi yang jauh lebih dalam dari yang diperkirakan sebelumnya.