TRAGEDI GAZA: DIPLACEMENT 13 KALI DEMI 200 BUKU - Berita Dunia
← Kembali

TRAGEDI GAZA: DIPLACEMENT 13 KALI DEMI 200 BUKU

Foto Berita

Perang di Gaza telah memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka sejak 7 Oktober 2023. Data Kementerian Kesehatan Gaza per 27 September 2026 mencatat sedikitnya 74.018 orang tewas dan 175.079 lainnya luka-luka. Di tengah kekacauan itu, banyak pengungsi harus memilih barang berharga apa yang bisa mereka selamatkan.

Kisah Omar Abdel Hakim Hamad, 30 tahun, jadi salah satu potret pilu perang. Saat menerima perintah evakuasi dari Beit Hanoon pada tengah malam, ia memutuskan bertahan sejenak demi menyelamatkan perpustakaan pribadinya yang berisi 500 buku. Ia hanya sanggup membawa sekitar 200 buku, terutama edisi langka yang tak tergantikan, termasuk cetakan tahun 1933 berjudul Kalila wa Dimna.

Sejak meninggalkan rumahnya pada 30 Oktober 2023, Omar sudah 13 kali berpindah tempat. Dari Gaza City, ia bergerak ke selatan hingga kamp pengungsi Maghazi. Buku-buku itu bukan sekadar benda mati. "Mereka adalah bagian dari diri saya," ujarnya. Bahkan di tengah kelaparan ekstrem, Omar sempat berpikir menukar seluruh koleksinya dengan satu-dua kilogram tepung. Kini, Perpustakaan Phoenix miliknya di Gaza City menampung sekitar 7.000 buku, termasuk 3.000 buku yang diselamatkan dari perpustakaan yang hancur.

Kisah serupa datang dari Shahd Abu Khosa, 30 tahun. Ia memilih membawa dua anjingnya, Lily dan Bobby, saat mengungsi dari lingkungan al-Jalaa. Perjalanan berat itu membuat Bobby mati kelaparan. Lily bertahan dengan sisa makanan keluarga, termasuk lentil dan roti. "Saya tidak pernah berpikir meninggalkan Lily," kata Shahd, yang mengaku dulu takut anjing sebelum akhirnya menganggap Lily bagian dari keluarga.

Dampak bagi masyarakat Gaza sangat luas. Selain kehilangan tempat tinggal, mereka kehilangan identitas, kenangan, dan ikatan emosional. Barang-barang yang diselamatkan menjadi simbol perlawanan terhadap upaya penghapusan memori kolektif. Sementara itu, kondisi kemanusiaan di lapangan makin memburuk dengan kelaparan dan serangan yang terus berlanjut, memperkuat urgensi gencatan senjata dan bantuan kemanusiaan internasional.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook