Konflik Rusia-Ukraina kembali memanas dengan gelombang serangan brutal yang dilaporkan menghantam beberapa wilayah vital di Ukraina. Insiden terbaru pada Rabu, 21 Januari, menandai hari ke-1.427 perang ini, menimbulkan korban jiwa dan kerusakan parah.
Gubernur Ivan Fedorov melalui Telegram melaporkan, serangan Rusia di kota Zaporizhzhia, Ukraina tenggara, menewaskan setidaknya tiga orang. Serangan tersebut juga menghancurkan sejumlah rumah pribadi dan mobil, serta membuat sekitar 1.500 rumah tangga kehilangan pasokan listrik. Sebelumnya, satu orang dilaporkan tewas akibat serangan rudal dan drone Rusia di wilayah Kyiv, yang mengelilingi ibu kota negara itu.
Dampak serangan udara Rusia terhadap ibu kota sangat signifikan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam pidato malamnya mengungkapkan bahwa lebih dari satu juta warga Kyiv kini hidup tanpa listrik, dan lebih dari 4.000 gedung apartemen tidak memiliki pemanas. Sementara itu, fasilitas infrastruktur penting di wilayah Vinnytsia, Ukraina tengah, juga menjadi target serangan Rusia. Gubernur Natalia Zabolotna menyebutkan tidak ada korban luka dalam insiden di wilayah yang menjadi markas besar Angkatan Udara Ukraina ini.
Tak hanya itu, fasilitas infrastruktur energi di wilayah Odesa selatan Ukraina juga mengalami kerusakan akibat serangan drone Rusia. Gubernur Oleh Kiper melaporkan, sebuah drone juga menghantam gedung permukiman bertingkat di pelabuhan Laut Hitam Chornomorsk, meski belum ada informasi lebih lanjut mengenai korban jiwa di sana.
Di tengah eskalasi militer ini, Ukraina terus mencari solusi diplomatik dan memperkuat pertahanannya. Negosiator perdamaian Ukraina bertemu dengan penasihat keamanan nasional dari Prancis, Jerman, dan Inggris di Davos. Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, Rustem Umerov, menyatakan pertemuan lanjutan diharapkan akan segera terjadi.
Presiden Zelenskyy juga menyerukan Ukraina dan Eropa untuk membentuk kekuatan pertahanan gabungan beranggotakan hingga tiga juta personel. Langkah ini diharapkan dapat menangkal ancaman dari Rusia, yang berencana menambah kekuatan militer menjadi 2,5 juta pada tahun 2030. Menteri Pertahanan Ukraina yang baru, Mykhailo Fedorov, berjanji akan melakukan perombakan besar-besaran pada angkatan darat Ukraina, dengan fokus pada penggunaan data untuk memberikan keunggulan atas pasukan Rusia yang lebih besar dan lebih lengkap.