Kabar duka kembali menyelimuti Teheran. Dua pejabat tinggi Iran dikonfirmasi tewas dalam serangkaian serangan yang disebut-sebut didalangi oleh Amerika Serikat dan Israel. Namun, Iran tegas menyatakan, pembunuhan ini takkan menggoyahkan sendi-sendi pemerintahan mereka.
Adalah Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang berpengaruh, dan Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, Kepala Pasukan Basij, kelompok paramiliter Garda Revolusi Iran, yang menjadi korban. Kematian Larijani, orang kepercayaan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan putranya Mojtaba Khamenei, menandai kehilangan sosok paling senior sejak awal serangan udara yang dimulai 19 hari lalu. Sementara itu, Soleimani dikenal sebagai pemimpin kunci perlawanan Iran terhadap agresi AS-Israel.
Menanggapi insiden ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, langsung bersuara. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, ia menekankan bahwa AS dan Israel gagal memahami inti kekuatan Iran. "Republik Islam Iran punya struktur politik yang kokoh, dengan institusi politik, ekonomi, dan sosial yang mapan," ujar Araghchi. Baginya, ada atau tidaknya satu individu, takkan memengaruhi sistem.
Araghchi bahkan mencontohkan saat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei gugur pada hari pertama serangan AS-Israel, 28 Februari lalu. "Meski kehilangan pemimpin penting, sistem tetap berjalan dan pengganti segera tersedia," tegasnya. Ini menjadi bukti bahwa Iran siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk kehilangan pemimpin, dan memastikan roda pemerintahan tetap berputar.
Di sisi lain, analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara, mengkritik keras praktik pembunuhan pemimpin politik yang kerap dilakukan Israel. Menurutnya, ini adalah tindakan "gangsterisme" dan "terorisme," jauh dari norma-norma peperangan yang berlaku. Pembunuhan semacam ini tidak hanya menciptakan ketegangan, tapi juga berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan. Meski demikian, narasi yang dibangun Iran jelas: mereka tidak gentar dan akan terus berdiri kokoh di tengah badai agresi.