Jakarta - Peta persaingan kursi kepemimpinan Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) mulai memanas. Kozo Tashima, kandidat asal Jepang, secara terbuka mengakui bahwa peluangnya untuk mengalahkan petahana Gianni Infantino dalam pemilihan presiden mendatang terbilang kecil, yakni hanya sekitar 20 hingga 30 persen.
Meski begitu, pria yang menjabat sebagai Presiden Kehormatan Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) ini tidak gentar. Ia menilai bahwa masalah terbesar yang dihadapi FIFA saat ini adalah tata kelola (governance). Tashima menegaskan komitmennya untuk membenahi sistem organisasi yang dinilainya sudah terlalu lama dikuasai kepentingan tertentu.
Dalam pernyataannya kepada media Jepang, Sports Nippon, Tashima mengungkapkan bahwa ia telah menerima pesan dukungan dari berbagai pihak yang menginginkan perubahan. Meski belum ada dukungan resmi, ia mengaku telah berkomunikasi dengan perwakilan dari delapan negara anggota, termasuk dari luar Asia. Untuk bisa maju sebagai kandidat, Tashima setidaknya membutuhkan nominasi dari lima asosiasi sepak bola nasional sebelum batas waktu 18 November.
Analisis singkat: Pencalonan Tashima menjadi angin segar bagi blok oposisi yang selama ini mengkritik dominasi Infantino, terutama terkait kontroversi rencana investasi swasta di entitas komersial FIFA beberapa waktu lalu. Namun, langkah Tashima akan menghadapi jalan terjal. Infantino sendiri telah mendapatkan dukungan kuat dari konfederasi sepak bola Asia dan beberapa benua lainnya, membuat posisinya sebagai petahana masih sangat kokoh di antara 211 asosiasi anggota FIFA. Jika Tashima gagal, status quo di FIFA kemungkinan besar akan berlanjut, yang berarti kebijakan-kebijakan kontroversial Infantino akan terus berjalan.