Situasi keamanan di ibu kota Rusia kembali menjadi sorotan setelah Letnan Jenderal Vladimir Alekseyev, seorang pejabat tinggi intelijen militer, menjadi korban penembakan. Alekseyev, yang menjabat Wakil Kepala Direktorat Utama Staf Umum Kementerian Pertahanan Rusia, ditembak berkali-kali di sebuah gedung permukiman di Jalan Raya Volokolamsk, Moskow, baru-baru ini. Ia kini sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Pihak berwenang Rusia melalui Komite Investigasi (ICR) telah membuka penyelidikan pidana atas insiden ini, menyoroti dugaan percobaan pembunuhan dan kepemilikan senjata api ilegal. Pelaku penembakan, yang identitasnya masih misterius, dilaporkan langsung melarikan diri dari lokasi kejadian. Rekaman CCTV dan keterangan saksi kini menjadi kunci bagi tim investigasi untuk mengungkap kasus ini.
Insiden ini menambah panjang daftar serangan terhadap pejabat militer Rusia, terutama sejak konflik di Ukraina meletus empat tahun lalu. Alekseyev sendiri dikenal publik karena perannya sebagai salah satu negosiator dengan mendiang pemimpin Grup Wagner, Yevgeny Prigozhin, saat pemberontakan singkat melawan Kremlin pada tahun 2023. Prigozhin kemudian tewas dalam kecelakaan pesawat yang banyak disebut-sebut sebagai 'pembalasan' dari Presiden Vladimir Putin.
Dalam beberapa kasus sebelumnya, Moskow kerap menuding Kyiv sebagai dalang di balik serangan terhadap perwira tingginya, bahkan intelijen militer Ukraina kadang mengklaim bertanggung jawab. Sebut saja kematian Letnan Jenderal Fanil Sarvarov pada 22 Desember lalu akibat bom mobil, atau tewasnya Jenderal Igor Kirillov pada awal 2024 setelah skuter jebakan meledak di dekat apartemennya, yang juga diklaim oleh Kyiv. Penembakan terhadap Alekseyev ini memicu spekulasi tentang kemungkinan adanya pola atau pesan terselubung di balik serangan-serangan ini, baik dari dalam negeri maupun pihak eksternal, yang berpotensi memperkeruh tensi politik dan keamanan di tengah gejolak perang.