Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, melontarkan peringatan keras mengenai potensi dampak serius dari konflik di Iran terhadap masa depan Inggris. Ia menyebut, perang tersebut bisa membawa implikasi ekonomi dan keamanan jangka panjang yang tak main-main bagi Britania Raya.
Starmer menegaskan, meskipun ada kekhawatiran besar, London tidak akan secara langsung terseret ke dalam pusaran konflik tersebut. Alih-alih terlibat secara militer, pemerintah Inggris, kata Starmer, akan memprioritaskan upaya de-eskalasi atau penurunan ketegangan. Mereka juga akan aktif mencari jalan untuk memperkuat kerja sama dengan para sekutu di Eropa.
Pernyataan PM Starmer ini bukan tanpa alasan. Konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, memiliki potensi mengguncang stabilitas global, termasuk Inggris. Dari sisi ekonomi, gangguan pada jalur pelayaran strategis dan produksi minyak di kawasan tersebut bisa memicu lonjakan harga energi secara global, yang pada akhirnya akan berdampak pada inflasi dan biaya hidup di Inggris. Sektor perdagangan dan rantai pasok juga terancam lumpuh.
Secara keamanan, konflik regional seringkali memicu peningkatan ancaman terorisme dan ketidakstabilan geopolitik yang bisa merembet ke Eropa. Inggris, sebagai salah satu kekuatan ekonomi besar dan anggota NATO, tentu punya kepentingan vital dalam menjaga stabilitas kawasan. Sikap London yang memilih jalur de-eskalasi dan kerja sama dengan Eropa menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara komitmen aliansi dan kepentingan nasional untuk menghindari keterlibatan langsung dalam konflik yang berpotensi merugikan. Langkah ini juga dapat diartikan sebagai strategi untuk menegaskan posisi Inggris sebagai pemain kunci dalam diplomasi internasional, bukan hanya sekadar mengikuti arus.