Serangan siber skala besar mengguncang jaringan ritel di Prancis. Peretas berhasil membobol sistem pendingin di ratusan supermarket, membuat suhu kulkas dan freezer melonjak hingga 50 derajat Celsius. Akibatnya, stok makanan segar dan beku membusuk, sementara beberapa toko dilaporkan mengalami kebakaran akibat panas berlebih.
Raksasa ritel seperti Intermarche, Cooperative U, E Leclerc, Carrefour, dan Monoprix menjadi korban. Intermarche melaporkan setidaknya 300 gerainya terkena dampak, sementara Cooperative U mencatat lebih dari 100 outlet terdampak. CEO Intermarche, Thierry Cotillard, menyebut kerugian akibat insiden ini bisa mencapai puluhan juta euro hanya dalam sehari.
Pemerintah Prancis bergerak cepat. Perdana Menteri Sebastien Lecornu memerintahkan Badan Keamanan Siber Nasional (ANSSI) untuk menyelidiki kasus ini. Investigasi awal mengungkap adanya celah keamanan pada perangkat lunak sistem pendingin buatan perusahaan Denmark, Danfoss. Perusahaan tersebut mengakui sistem yang diserang menggunakan firmware usang, meski mereka mengklaim telah lama mengimbau pelanggan untuk melakukan pembaruan.
Insiden ini menjadi peringatan serius bagi sektor ritel global. Sistem pendingin yang terhubung ke internet memang memudahkan pemeliharaan, tetapi tanpa protokol keamanan yang ketat, perangkat tersebut menjadi pintu masuk empuk bagi peretas. Masyarakat pun diimbau lebih waspada terhadap keamanan pangan selama masa pemulihan sistem.