Gelombang baru migran Muslim mulai melirik wilayah Andalusia, Spanyol Selatan, bukan sekadar untuk berlibur, melainkan untuk menetap dan menghidupkan kembali narasi sejarah peradaban Islam yang telah lama terkubur. Fenomena ini salah satunya digerakkan oleh proyek ambisius bernama House of Andalus di pegunungan Alora, Malaga, yang didirikan oleh pasangan Henrietta Szovati dan Ajmal Masroor.
Mereka menyulap lahan seluas 14 hektar yang dipenuhi ratusan pohon zaitun menjadi pusat pembelajaran yang menghubungkan wisatawan dengan warisan sejarah Islam dan alam. Inisiatif ini bukan tanpa alasan; jejak etimologi bahasa Arab masih kental terasa, mulai dari nama stasiun kereta 'Aljaima' yang berarti tenda, hingga nama kota Alora yang konon berasal dari kata 'al-lawra' atau cahaya.
Dampaknya bagi masyarakat lokal cukup signifikan. Kehadiran komunitas pendatang ini tidak hanya menghidupkan kembali sektor pertanian yang sempat terdampak perubahan iklim dan kebakaran hutan, tetapi juga membuka dialog budaya baru. Di tengah bayang-bayang sejarah kelam pengusiran massal abad ke-15, kehadiran kembali komunitas Muslim di Andalusia menjadi simbol rekonsiliasi budaya yang menarik perhatian dunia internasional.