Situasi konflik di Ukraina kian memanas mendekati tahun keempatnya, tanpa ada tanda-tanda meredanya peperangan. Di tengah kondisi ini, Amerika Serikat kembali memfasilitasi perundingan krusial antara utusan Rusia dan Ukraina yang akan berlangsung di Jenewa, Swiss, pada 17-18 Februari mendatang.
Pertemuan tingkat tinggi ini diharapkan dapat menemukan titik terang setelah dua putaran perundingan sebelumnya di Abu Dhabi tak membuahkan hasil signifikan. Delegasi Rusia akan dipimpin oleh Vladimir Medinsky, penasihat Presiden Putin yang dikenal garis keras, sementara pihak Ukraina akan diwakili oleh Rustem Umerov, Kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, bersama Kepala Staf Presiden Zelenskyy, Kyrylo Budanov.
Masalah utama yang menjadi ganjalan serius adalah masa depan wilayah industri Donbas. Rusia menuntut agar Ukraina menarik pasukannya dari seperlima wilayah Donetsk di Donbas yang masih dikuasainya. Namun, Ukraina menolak keras tuntutan unilateral ini. Kyiv justru menginginkan jaminan keamanan konkret dari negara-negara Barat untuk mencegah serangan baru jika gencatan senjata disepakati.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut, Presiden AS Donald Trump telah memberikan batas waktu hingga Juni bagi kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan damai. Namun, pengalaman menunjukkan, ultimatum dari Trump sebelumnya seringkali tidak menghasilkan terobosan berarti dalam konflik ini. Ini membuat prospek kesepakatan damai masih diselimuti ketidakpastian.
Perang di Ukraina telah menelan korban jiwa ratusan ribu tentara dan puluhan ribu warga sipil, menjadikannya konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II. Bahkan menjelang perundingan, pertempuran dan serangan mematikan masih terjadi. Di Ukraina timur, tiga bersaudara tewas dalam serangan udara Rusia, sementara di Odesa, satu orang tewas dan enam luka akibat serangan ke infrastruktur pelabuhan dan energi. Tak hanya itu, Rusia pun melaporkan serangan dari Ukraina, seperti di Volgograd yang melukai tiga orang termasuk anak 12 tahun akibat serpihan drone, dan di Belgorod yang menewaskan dua orang serta melukai tiga lainnya akibat serangan rudal.
Donbas sendiri bukan sekadar wilayah industri. Kawasan ini memiliki nilai strategis dan simbolis yang besar bagi kedua negara. Kegagalan perundingan kali ini bukan hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat, tetapi juga berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas, dengan dampak kemanusiaan dan ekonomi yang makin parah bagi Eropa dan dunia.