Sebuah tragedi penerbangan mengguncang Bolivia setelah pesawat angkut militer Hercules C-130 milik Angkatan Udara Bolivia jatuh di dekat Bandara Internasional El Alto, La Paz, Jumat malam waktu setempat. Insiden memilukan ini menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai lebih dari 30 lainnya, saat pesawat gagal mendarat akibat cuaca buruk dan menabrak jalan raya yang sibuk.
Yang membuat insiden ini semakin kompleks adalah muatan pesawat: tumpukan uang kertas yang baru dicetak. Setelah kecelakaan, uang-uang tersebut berserakan di lokasi kejadian, memicu kekacauan saat kerumunan warga, yang semula ingin membantu, justru terlihat berebutan mengumpulkan lembaran-lembaran tersebut di tengah puing-puing pesawat dan korban.
Pihak berwenang harus menggunakan selang air dan gas air mata untuk membubarkan massa yang semakin tak terkendali. Kementerian Pertahanan Bolivia segera mengeluarkan pernyataan penting: uang yang diangkut pesawat itu tidak memiliki nomor seri resmi, sehingga tidak memiliki nilai legal atau daya beli. Mengumpulkan, memiliki, atau menggunakan uang tersebut dianggap sebagai tindak pidana. Dua dari enam awak pesawat dilaporkan masih hilang, sementara penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan.
Tragedi ini juga menjadi sorotan mengingat lokasi kejadian di La Paz, ibu kota administratif tertinggi di dunia dengan ketinggian 3.650 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis ekstrem dengan badai es dan petir yang dilaporkan terjadi saat kejadian, menambah tantangan tersendiri bagi penerbangan dan operasi penyelamatan. Insiden ini mengingatkan kita akan pentingnya protokol keselamatan penerbangan yang ketat, terutama di wilayah dengan kondisi cuaca dan ketinggian yang menantang, sekaligus menyoroti dilema moral dan hukum yang muncul di tengah bencana.