Jakarta – Starbucks Korea akan menutup seluruh gerainya lebih awal pekan depan. Bukan karena krisis kopi, melainkan untuk memberikan pelatihan 'kesadaran sejarah' kepada karyawan. Langkah dramatis ini diambil setelah kampanye pemasaran mereka baru-baru ini memicu kemarahan publik karena dianggap menghina salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah demokrasi Korea Selatan.
Kampanye kontroversial itu menggunakan frasa 'Tank Day' dan angka '5/18' untuk mempromosikan gelas kopi edisi khusus. Padahal, tanggal 18 Mei 1980 adalah hari ketika militer menumpas pemberontakan pro-demokrasi di kota Gwangju, yang menewaskan ratusan hingga ribuan warga sipil. Banyak warga Korea menganggap penggunaan simbol tragedi untuk promosi komersial sebagai bentuk penghinaan yang sangat tidak sensitif.
Akibat badai publik ini, CEO Starbucks Korea, Son Jung-hyun, dipecat. Kini, operator lokal Starbucks, Shinsegae Group, mengumumkan bahwa semua gerai akan tutup pada pukul 15.00 waktu setempat pada Senin pekan depan. Seluruh karyawan, termasuk para eksekutif puncak, akan mengikuti pelatihan khusus tentang 'kepekaan sosial dan sejarah'. Ini adalah pertama kalinya sejak Starbucks hadir di Korea pada tahun 1999, seluruh toko tutup serempak untuk sebuah pelatihan internal.
Langkah ini menjadi preseden penting di industri ritel global. Seperti dikutip dari Al Jazeera English, Ketua Shinsegae Group, Chung Yong-jin, dan jajaran direksi akan menjalani pelatihan terpisah pada hari Rabu. Perusahaan menyatakan insiden ini harus menjadi pelajaran agar kejadian serupa tidak terulang, tidak hanya di Starbucks, tetapi di seluruh grup usaha mereka.
Bagi masyarakat Indonesia, kasus ini menjadi pengingat keras bahwa di era digital dan media sosial, sensitivitas sejarah dan budaya adalah modal mutlak. Sejarah kelam suatu bangsa bukanlah properti pemasaran. Kesalahan sekecil apapun dalam membaca sentimen publik bisa berakibat fatal, mulai dari boikot konsumen hingga jatuhnya pemimpin perusahaan. Pelajaran dari Korea ini menunjukkan bahwa terkadang, tutup toko untuk belajar sejarah adalah harga yang harus dibayar untuk menjaga reputasi jangka panjang.