Washington, DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah ia menghindari memberikan dukungan terbuka kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menjelang pemilihan umum di Israel. Sikap ini mengejutkan banyak pihak, mengingat keduanya sering terlihat akrab dan bertemu secara rutin di Gedung Putih.
Dalam wawancara eksklusif dengan majalah Time, Trump tiga kali menolak menjawab lugas ketika ditanya apakah rakyat Israel sebaiknya memberikan masa jabatan lagi kepada Netanyahu. Alih-alih menjawab 'ya' atau 'tidak', Trump justru berkelit dengan membanggakan tingkat popularitasnya sendiri di Israel yang ia klaim mencapai 99 persen.
"Saya tidak terlibat dalam politik lagi, kecuali fakta bahwa kami sangat populer," ujar Trump. Ia kemudian mengalihkan pembicaraan pada kebijakan luar negerinya, seperti pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem dan komitmennya untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Meski demikian, Trump tetap membela Netanyahu terkait laporan intelijen menjelang serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Ia menilai Netanyahu tidak mengetahui rencana serangan tersebut. "Saya pikir jika dia tahu, dia akan melakukan sesuatu," tegas Trump.
Analisis Dampak: Sikap ambigu Trump ini bisa dibaca sebagai strategi politik menjelang pemilu AS. Dukungan terbuka untuk Netanyahu berisiko menurunkan elektabilitas Trump di kalangan pemilih muda dan moderat yang mulai kritis terhadap kebijakan perang Israel. Di sisi lain, pertemuan intensif keduanya tetap menunjukkan hubungan yang kuat secara personal, namun terbendung oleh kepentingan domestik AS.