NETANYAHU TETAP KUASAI LEBANON & SURIAH, ABADIKAN PENDUDUKAN - Berita Dunia
← Kembali

NETANYAHU TETAP KUASAI LEBANON & SURIAH, ABADIKAN PENDUDUKAN

Foto Berita

YERUSALEM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dengan tegas menyatakan bahwa pasukan negaranya tidak akan menarik diri dari wilayah pendudukan di Lebanon dan Suriah. Pernyataan ini disampaikan di tengah rencana penandatanganan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan pada Jumat pekan ini.

Dalam konferensi pers pada hari Senin, Netanyahu menegaskan, pasukan Israel akan tetap bertahan di Lebanon, di mana mereka saat ini menguasai sekitar 570 kilometer persegi wilayah. "Kami akan tetap berada di zona penyangga keamanan Lebanon selama yang diperlukan," ujar Netanyahu, seperti dikutip dari The Jerusalem Post.

Sikap keras Netanyahu ini langsung menimbulkan tekanan baru terhadap kesepakatan gencatan senjata yang masih rapuh. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang mengumumkan kesepakatan tersebut pada hari Minggu, mengatakan nota kesepahaman akan mencakup "penghentian segera dan permanen semua operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon."

Ketegangan semakin memuncak setelah Israel melancarkan serangan ke pinggiran kota Beirut pada hari Minggu, menewaskan tiga orang. Serangan ini dianggap sebagai pelanggaran terhadap 'garis merah' Iran terkait kesepakatan dengan AS. Laporan menyebutkan, aksi Israel itu membuat marah Presiden AS Donald Trump karena khawatir dapat menggagalkan proses gencatan senjata.

Analisis Dampak: Sikap Netanyahu ini jelas memperumit upaya diplomasi. Di satu sisi, kesepakatan AS-Iran bertujuan meredakan ketegangan regional, namun di sisi lain, Netanyahu justru kukuh memperpanjang pendudukan. Hal ini berpotensi memicu kembali konflik berskala besar, mengingat Hezbollah yang didukung Iran masih memiliki kekuatan. Selain itu, perbedaan pandangan antara Netanyahu dan Trump yang mulai terbuka ke publik menunjukkan adanya keretakan di antara dua sekutu dekat ini, yang bisa berdampak pada kebijakan AS di Timur Tengah ke depannya.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook