Jakarta, 25 Mei 2025 – Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Meskipun gencatan senjata sementara telah disepakati pada April lalu, kedua negara kini saling mengirim sinyal ancaman dan menunjukkan kesiapan untuk menggunakan kekuatan militer.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini memperingatkan bahwa pangkalan militer AS di kawasan akan menjadi sasaran sah jika digunakan untuk menyerang Iran. Peringatan ini muncul setelah serangkaian serangan balasan yang melibatkan rudal dan drone di Teluk Oman, Kuwait, dan Bahrain.
Insiden terbaru mencatat rudal Iran menghantam Bandara Internasional Kuwait, melukai sejumlah orang dan mengganggu penerbangan. Pemerintah India mengonfirmasi satu warga negaranya tewas dalam serangan itu. Sementara itu, Iran juga mengklaim telah menembaki kapal perang AS di Teluk Oman dengan rudal peringatan.
Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa rudal Iran yang ditujukan ke Kuwait meleset atau hancur sebelum mencapai sasaran. AS juga melancarkan serangan balik ke situs radar dan drone Iran di Pulau Qeshm dan Goruk.
Analisis Dampak: Eskalasi ini menimbulkan kekhawatiran serius akan pecahnya perang skala penuh di kawasan Teluk. Jika konflik meluas, rantai pasok minyak global bisa terganggu, mengingat Selat Hormuz menjadi jalur vital. Dampaknya bisa langsung terasa pada kenaikan harga BBM dan bahan pokok di Indonesia. Situasi ini juga menunjukkan bahwa diplomasi yang dijembatani Pakistan belum cukup kuat untuk meredam ketegangan.