Pemilihan umum Israel pada Selasa (25/3) mencatat lonjakan partisipasi politik yang luar biasa. Hingga pukul 14.00 waktu setempat, hampir 45 persen pemilih telah menggunakan hak suaranya. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam 50 tahun terakhir dan melampaui capaian pemilu 2022 sebesar 6 persen.
Tingginya antusiasme warga tidak terlepas dari posisi Benjamin Netanyahu yang tengah menjadi sorotan. Pemilu kali ini dinilai sebagai referendum atas kepemimpinannya, terutama terkait penanganan serangan 7 Oktober 2023 dan konflik berkepanjangan yang menyusul. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pendukung Netanyahu, terutama karena tingginya partisipasi dari warga Arab Israel yang mencapai seperlima dari total populasi.
Namun, di balik angka partisipasi yang melonjak, muncul masalah baru terkait aksesibilitas. Organisasi hak asasi manusia Israel (ACRI) melaporkan adanya antrean panjang dan penundaan di sejumlah TPS, khususnya di 18 komunitas Arab. Mereka mencurigai adanya upaya sistematis untuk menghambat suara, terlebih dengan adanya kehadiran polisi dan Garda Nasional dalam jumlah besar di area TPS. Sementara itu, para pengamat politik memprediksi bahwa tingginya angka partisipasi ini akan menguntungkan partai petahana karena ambang batas parlemen yang harus dicapai semakin kompetitif.