Tim nasional sepak bola Iran tampil di lapangan dengan ban lengan hitam dan tas sekolah, bukan hanya untuk pertandingan persahabatan, tapi sebagai simbol duka mendalam bagi para korban serangan udara di sebuah sekolah. Kejadian ini menambah babak baru dalam ketegangan yang membara di Timur Tengah.
Peristiwa tragis tersebut terjadi di kota Minab, Iran selatan, pada 28 Februari lalu. Rudal yang menghantam sekolah tersebut menewaskan sedikitnya 170 orang, termasuk murid dan guru, tepat di hari pertama konflik Timur Tengah yang melibatkan AS dan Israel dalam serangan terhadap Iran.
Awalnya, Menteri Luar Negeri Iran menuduh AS melakukan “serangan terencana.” Namun, laporan investigasi awal militer AS, seperti dikutip The New York Times, justru menunjukkan bahwa rudal jelajah Tomahawk milik AS lah yang menghantam sekolah akibat kesalahan penargetan. Disebutkan, target sebenarnya adalah pangkalan militer Iran yang berdekatan, dan koordinat sasaran diatur menggunakan data usang. Ironisnya, Presiden AS Donald Trump sempat menyalahkan Iran atas insiden ini, padahal Iran tidak memiliki rudal Tomahawk.
Momen berkabung timnas Iran, yang membawa tas sekolah berwarna pink dan ungu sebelum laga persahabatan melawan Nigeria di Belek, Turki, menjadi bentuk protes dan pengingat akan tragedi kemanusiaan ini. Meskipun kalah 2-1 dalam pertandingan tersebut, pesan yang mereka sampaikan jauh lebih besar. Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan antara kedua negara. Bahkan, Iran yang sudah lolos ke putaran final Piala Dunia musim panas ini, kini meminta pertandingan mereka dipindahkan dari AS ke Meksiko. Alasannya jelas: kekhawatiran akan “kehidupan dan keselamatan” para pemain setelah peringatan dari Presiden Trump.
Tragedi salah sasaran rudal yang menewaskan banyak warga sipil, khususnya anak-anak dan guru di sekolah, adalah pengingat pahit akan dampak mengerikan konflik bersenjata. Kasus ini juga menyoroti pentingnya akurasi intelijen dan target dalam operasi militer untuk menghindari korban sipil yang tak bersalah. Pernyataan kontradiktif dari pejabat AS dan temuan investigasi internal juga memperlihatkan kompleksitas dan narasi yang sering kali membingungkan di tengah konflik. Bagi masyarakat Iran, ini adalah luka mendalam yang bukan hanya dirasakan di medan perang, tapi juga di ruang publik dan bahkan lapangan olahraga. Ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik bisa merembet dan mengancam keamanan di berbagai sendi kehidupan, termasuk ajang olahraga internasional.