Jakarta — Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali menjadi sorotan dunia. Aksi kontroversialnya, mulai dari menghalangi kesepakatan gencatan senjata dengan Iran hingga melecehkan aktivis pro-Palestina asal Eropa, membuat sekutu-sekutu Israel seperti AS, Inggris, dan Prancis angkat bicara.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan terpaksa mengecam anak buahnya sendiri, menyebut tindakan Ben-Gvir "tidak sesuai dengan nilai dan norma Israel." Menteri Luar Negeri Gideon Sa'ar pun ikut menjauh, mengklaim Ben-Gvir "bukanlah wajah Israel."
Namun, analisis dari berbagai kalangan justru menunjukkan sebaliknya. Anggota Knesset dari partai kiri Hadash, Aida Touma-Sliman, menegaskan bahwa Ben-Gvir bukanlah "kambing hitam" yang berdiri sendiri. "Dia bodoh, tapi itu artinya dia tidak bertindak sendirian. Semua yang dia lakukan dibantu politisi dan pegawai negeri lain yang sepaham," ujarnya kepada Al Jazeera.
Sejak menjabat pada 2022, Ben-Gvir menguasai penuh kepolisian dan dinas pemasyarakatan. Touma-Sliman mempertanyakan, jika satu saja polisi menolak politisasi, atau kepala penjara menolak menyiksa tahanan, kekuasaan Ben-Gvir bisa runtuh. Kenyataannya, tidak ada yang melawan.
Ironisnya, rekam jejak Ben-Gvir sudah hitam sejak muda. Pada 1995, ia pernah berfoto sambil memegang ornamen mobil milik PM Yitzhak Rabin yang baru saja dibunuh, seraya berkata "Kami sampai ke mobilnya." Kini, ia dianggap bukan lagi outlier politik, melainkan cermin dari bagian masyarakat Israel yang semakin dominan dan ekstrem.