HIZBULLAH TAHAN DIRI, KENAPA ISRAEL TERUS HANTAM LEBANON? - Berita Dunia
← Kembali

HIZBULLAH TAHAN DIRI, KENAPA ISRAEL TERUS HANTAM LEBANON?

Foto Berita

Situasi di perbatasan Lebanon-Israel kian memanas, namun dengan dinamika yang membingungkan. Selama 14 bulan terakhir, sejak gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel disepakati pada 27 November 2024, kelompok Hizbullah hanya melancarkan satu serangan balasan. Padahal, pada periode yang sama, Israel dilaporkan telah melakukan lebih dari 11.000 pelanggaran. Mengapa kelompok militan yang dulunya dikenal agresif ini memilih menahan diri?

Agresi Israel yang tak henti-henti ini telah meninggalkan jejak kehancuran di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa. Serangan-serangan tersebut tidak hanya merusak infrastruktur, tapi juga membuat sekitar 64.000 warga Lebanon terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Bahkan, Israel terus menduduki lima titik penting di Lebanon selatan dan berulang kali menghalangi upaya rekonstruksi dengan menargetkan peralatan konstruksi. Sejak November 2024, lebih dari 330 orang di Lebanon tewas, termasuk sedikitnya 127 warga sipil dan seorang komandan Hizbullah.

Para analis melihat sikap menahan diri Hizbullah bukan tanpa alasan. Kelompok itu memang melemah secara militer dan politik pasca perang 2024, yang menewaskan sebagian besar pimpinan militernya, termasuk sang kepala Hizbullah, Hassan Nasrallah. Lebih lanjut, jatuhnya rezim al-Assad di Suriah tak lama setelah gencatan senjata, memutus jalur pasokan logistik dan senjata krusial dari Iran. Namun, Hizbullah tetap berpegang pada komitmen gencatan senjata untuk memberi ruang bagi pemerintah dan tentara Lebanon mencari solusi diplomatik. Ini juga menjadi kesempatan bagi mereka untuk membangun kembali kekuatan dan memungkinkan warga kembali ke desa masing-masing.

Meski begitu, para pengamat memperingatkan bahwa Hizbullah tidak sepenuhnya mengesampingkan respons. Mereka cenderung akan bertindak hanya dalam situasi ekstrem atau jika Iran menghadapi ancaman eksistensial di kawasan. Jadi, di tengah derita warga sipil Lebanon yang terusir dan kehilangan, masa depan perbatasan ini masih diselimuti ketidakpastian, menunggu 'kesempatan yang tepat' atau kegagalan diplomasi sepenuhnya.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook