ZURICH - Dunia sepak bola kembali memanas jelang pertemuan Dewan FIFA di Zurich, Swiss, Kamis (waktu setempat). Agenda utamanya bukan sekadar evaluasi Piala Dunia, melainkan upaya menutup celah kontroversi yang membayangi turnamen tahun ini.
FIFA dilaporkan akan mengubah aturan yang memungkinkan kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, dibatalkan secara kontroversial. Insiden ini bermula saat Balogun diusir wasit karena menginjak pergelangan kaki pemain Bosnia, Tarik Muharemovic, dalam laga babak 32 besar. Hukuman larangan bermain satu pertandingan otomatis berlaku.
Namun, tekanan politik tingkat tinggi dari Presiden AS Donald Trump kepada Presiden FIFA Gianni Infantino membuat kartu merah tersebut dianulir. Alhasil, Balogun bisa kembali berlaga di babak 16 besar melawan Belgia. Keputusan ini memicu amarah federasi sepak bola dunia, mantan pejabat FIFA, hingga para pelatih yang menilai ada intervensi kekuasaan di ranah sportivitas.
Dewan FIFA yang beranggotakan 37 orang ini dijadwalkan melakukan voting untuk melarang komite disiplin membatalkan hukuman otomatis di Piala Dunia. Wakil Presiden FIFA, Debbie Hewitt, termasuk suara lantang yang menuntut Infantino membuka semua dokumen terkait kasus Balogun.
Pertemuan ini juga menjadi momen krusial bagi Infantino yang tengah menghadapi badai kritik. Selain isu Balogun, ia disorot karena rencana kontroversial menjual 20 persen saham bisnis komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Rencana yang kemudian dibatalkan itu disebut melibatkan perusahaan milik Joshua Kushner, adik ipar Donald Trump.
Tekanan terhadap Infantino kian kuat. Tiga konfederasi besar (UEFA, AFC, CONCACAF) dilaporkan telah meminta Infantino mundur. Dengan masa jabatan yang akan berakhir pada 2027, pertemuan ini akan menjadi ujian berat bagi kepemimpinan Infantino dan masa depan tata kelola FIFA.