Ketegangan antara Amerika Serikat dan Kuba kembali memanas. Di tengah krisis ekonomi dan pemadaman listrik yang melanda, Washington terus mencekik Havana dengan embargo bahan bakar. Presiden Trump bahkan mengisyaratkan akan segera mengambil tindakan 'sesuatu' yang bisa mengubah peta politik di negara pulau itu.
Situasi di Kuba kian terpojok setelah Amerika Serikat, melalui Menteri Luar Negeri Marco Rubio, secara terbuka menuntut 'pergantian kepemimpinan' di Havana. Tekanan ini datang seiring dengan embargo bahan bakar secara de facto yang diterapkan AS sejak penculikan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, yang didukung Kuba. Ancaman sanksi bagi negara manapun yang berani memasok bahan bakar ke Kuba telah memperparah krisis ekonomi akut yang sudah berlangsung bertahun-tahun, memicu dampak kemanusiaan yang serius.
Rubio juga menepis tawaran Kuba yang mengizinkan warga di pengasingan untuk berinvestasi dan memiliki bisnis, menilai langkah tersebut 'tidak cukup dramatis' untuk memulihkan keadaan. Menurutnya, sistem ekonomi dan pemerintahan Kuba 'tidak berfungsi' dan negara itu selama ini 'bertahan dari subsidi' sejak revolusi tahun 1950-an. Karenanya, 'mereka harus mendapatkan orang-orang baru yang bertanggung jawab,' tegas Rubio.
Senada dengan itu, Presiden Donald Trump turut memperkeruh suasana. Setelah sebelumnya mengisyaratkan 'pengambilalihan yang bersahabat,' kini Trump menyatakan akan 'melakukan sesuatu dengan Kuba sangat segera.' Indikasi kuat adanya intervensi atau sanksi lebih keras kian menguat.
Padahal, pekan lalu AS dan Kuba dilaporkan telah melakukan pembicaraan untuk mengakhiri kampanye tekanan ini. Namun, laporan media AS menyebutkan bahwa pemerintahan Trump justru meminta Presiden Miguel Diaz-Canel untuk mundur, meski belum ada detail mengenai penggantinya. Ini menunjukkan bahwa tuntutan AS bukan sekadar melonggarkan embargo, melainkan perubahan rezim.
Kondisi di lapangan semakin mencemaskan. Pemadaman listrik nasional pada Senin lalu, yang merupakan kejadian umum di Kuba, menyoroti betapa parahnya krisis infrastruktur dan energi. Meskipun pada Selasa listrik mulai pulih di dua pertiga wilayah, termasuk 45 persen ibu kota Havana, masalah dasar ini tetap menjadi momok.
Puluhan tahun di bawah embargo perdagangan AS, Kuba dan pemerintahan komunisnya terus berjuang. Tekanan terbaru ini tidak hanya memperdalam penderitaan ekonomi, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar tentang kedaulatan dan masa depan politik Kuba. Masyarakat akan terus menanggung beban akibat ketegangan geopolitik yang tak berkesudahan ini, dengan ancaman intervensi AS yang semakin nyata.