Konflik berkepanjangan di Sudan tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga memicu krisis air bersih yang mencekik masyarakat. Di Port Sudan, warga seperti Amina Khalafallah harus merogoh kocek hingga 300.000 pound Sudan (sekitar Rp 30 juta) per bulan hanya untuk kebutuhan air keluarganyaāsetara dengan seluruh gaji bulanannya. Ia terpaksa berutang karena rumahnya tak terhubung jaringan pipa dan harus bergantung pada pedagang keliling yang menjual air dengan harga selangit.
Kondisi ini diperparah oleh runtuhnya Bendungan Arbaat pada Agustus 2024 akibat banjir besar. Bendungan yang dulunya memasok 50 persen kebutuhan air kota itu kini tak berfungsi, membuat pipa dan sumur rusak parah. Akibatnya, pasokan air di Port Sudan hanya mampu memenuhi kurang dari 40 persen permintaanāsementara gelombang pengungsi terus berdatangan. Harga air pun melonjak tajam; satu tangki berisi 50.000 liter kini mencapai 1,5 juta pound Sudan, naik lebih dari tiga kali lipat dibanding sebelum perang.
Dampaknya bagi masyarakat sangat luas. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap penyakit bawaan air seperti kolera dan diare. Bank Pembangunan Afrika (AfDB) mencatat akses air bersih sebagai kebutuhan paling mendesak di Sudan. Tanpa intervensi cepat, krisis ini bukan hanya soal biaya, tetapi soal kelangsungan hidup jutaan orang yang terjebak di tengah konflik.