Pachuca, Meksiko - Di balik gemerlap sepak bola Meksiko yang bakal jadi tuan rumah Piala Dunia 2023, ternyata ada cerita menarik soal pengaruh para penambang asal Cornwall, Inggris. Mereka bukan cuma membawa teknologi tambang, tapi juga memperkenalkan si kulit bundar ke negeri sombrero ini.
Semua bermula pada 1824, saat industri tambang Meksiko hancur lebur usai perang kemerdekaan. Seorang insinyur tambang sukses asal Cornwall, John Taylor, melihat peluang di tambang Real del Monte, Hidalgo. Taylor lalu memboyong ratusan penambang Cornwall ke Meksiko, dan mereka bolak-balik Atlantik selama puluhan tahun.
Dari situlah budaya dan olahraga ikut terbawa. Awalnya, para penambang ini main kriket di akhir 1850-an. Tapi, karena aturan sepak bola modern belum resmi di Inggris, klub kriket perlahan berubah jadi klub sepak bola. Pada 1892, koran lokal sudah memberitakan tim sepak bola Pachuca. Dua tahun kemudian, Pachuca Athletic Club resmi berdiri setelah menggabungkan klub kriket dan sepak bola.
Yang menarik, tokoh kuncinya adalah Frank Rule, seorang bos tambang asal Cornwall yang dijuluki 'Raja Perak'. Dialah yang menyumbangkan tanah untuk lapangan, dengan satu syarat: pertandingan dilarang digelar hari Minggu. Kini, warisan itu dikenang lewat tifo raksasa bergambar penambang dengan kue pasty (makanan khas Cornwall) di tangan saat laga CF Pachuca.
Dampak: Kisah ini membuktikan bahwa sepak bola bukan cuma soal tendangan dan gol, tapi juga soal migrasi, pertukaran budaya, dan kerja keras para buruh tambang. Tanpa mereka, mungkin gairah sepak bola Meksiko tidak akan sebesar sekarang. Ini juga jadi pengingat bahwa olahraga bisa jadi jembatan sejarah antarnegara.