Jakarta, CNBC Indonesia - Euforia sepak bola di Piala Dunia 2023 sempat pecah di dua kota besar dunia, Teheran dan Los Angeles, saat Timnas Iran berhasil menahan imbang Selandia Baru dengan skor 2-2. Namun, di balik kegembiraan itu, pertandingan persahabatan ini justru menjadi panggung baru bagi ketegangan politik yang sudah lama mengakar.
Di Teheran, para penggemar turun ke jalan, mengibarkan bendera Iran dan bernyanyi. Namun di Los Angeles, pertandingan berlangsung dramatis. Bukan karena gol semata, melainkan karena adanya aksi protes dan perdebatan sengit soal simbol negara. Sejumlah pengunjung stadion membawa bendera Iran versi lama yang identik dengan era pra-Revolusi Islam, yang langsung memicu reaksi keras dari kelompok pendukung pemerintah Iran.
Bentrokan simbol ini bukan sekadar soal bendera. Ini adalah cerminan dari perpecahan sosial yang mendalam di Iran pasca aksi demonstrasi nasional tahun lalu. Bagi diaspora Iran di AS, pertandingan ini menjadi ajang untuk menyuarakan aspirasi politik mereka, sementara di dalam negeri, pemerintah berusaha keras menjaga citra persatuan melalui olahraga.
Media internasional melihat bahwa momen seperti Piala Dunia seringkali menjadi 'katalisator' yang mempercepat keluarnya ketegangan politik laten ke permukaan. Dampaknya bagi masyarakat Iran, baik di dalam maupun luar negeri, adalah semakin menguatnya polarisasi identitas. Sepak bola, yang seharusnya menjadi pemersatu, kini menjadi medan pertempuran simbolis antara dua kubu yang berbeda pandangan.