Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat kembali menjatuhkan sanksi baru kepada Kuba, kali ini langsung menyasar Presiden Miguel Diaz-Canel dan keluarganya. Langkah ini diumumkan oleh Departemen Keuangan AS pada Kamis (17/4) sebagai bagian dari tekanan Washington yang terus meningkat terhadap pemerintahan komunis di pulau tersebut.
Sanksi tersebut tidak hanya membidik Diaz-Canel, tetapi juga istrinya, anak tirinya, serta putra dan cucu dari mantan Presiden Raul Castro. Tak berhenti di situ, AS juga menjatuhkan sanksi pada Kementerian Angkatan Bersenjata Revolusioner, militer Kuba, dan Komite Pertahanan Revolusi (CDR), sebuah organisasi yang bertugas memantau aktivitas kontra-revolusioner.
Washington beralasan bahwa rezim komunis Kuba mengancam keamanan AS. Presiden Donald Trump bahkan secara eksplisit menyebut akan 'mampir' ke Kuba setelah urusan dengan Iran selesai. Ancaman ini muncul di tengah krisis energi dan pangan yang parah di Kuba, di mana pemadaman listrik bisa berlangsung hingga 22 jam sehari dan warga kekurangan air bersih, makanan, serta obat-obatan.
Menanggapi sanksi tersebut, Diaz-Canel menuduh Trump mencoba 'memperkuat blokade dan skenario konflik' antara kedua negara. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, menyebut sanksi itu 'keji' dan merupakan bentuk intervensi AS yang terbaru.
Analisis Dampak: Sanksi ini memperparah blokade energi yang sudah berlangsung sejak Januari lalu. Kuba kini sangat bergantung pada bantuan dari Meksiko dan China untuk bertahan hidup. Trump sendiri secara blak-blakan mengakui bahwa Kuba sudah 'collapse' atau ambruk, meskipun ia membantah bahwa sanksi bertujuan mempercepat keruntuhan negara tersebut. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi besar AS untuk mendorong rezim sayap kiri keluar dari kawasan Amerika Latin.