Uni Eropa (EU) memberi sinyal serius: harga minyak dan gas diprediksi tak bakal pulih cepat ke level normal, bahkan jika perang di Iran segera berakhir. Komisioner Energi EU memperingatkan bahwa pasar energi global tengah dihantam tekanan hebat. Di Eropa saja, harga gas sudah meroket hingga 70%, sementara minyak melonjak 60%.
Lonjakan harga ini jelas memukul telak masyarakat. Dompet konsumen makin tercekik, terutama untuk listrik dan transportasi. Sektor industri pun ikut menjerit karena biaya produksi membengkak, yang ujung-ujungnya bisa memicu inflasi lebih parah. Situasi ini makin runyam akibat ketidakpastian geopolitik global yang membuat pasokan energi makin rentan bergejolak.
Walau perang di Iran disebut-sebut jadi pemicu utama, para ahli juga melihat faktor lain: pulihnya ekonomi pasca-pandemi yang bikin permintaan naik, serta investasi energi terbarukan yang belum ngebut. Semua faktor ini bikin harga energi makin labil dan bikin pusing, membuat prospek harga stabil tampak makin jauh dari harapan.