Timnas Wanita Inggris memang tampil ganas dengan membantai Yunani 8-1 secara agregat di babak play-off Kualifikasi Piala Dunia Wanita 2027. Namun, kemenangan telak ini justru membuka 'borok' sistem kualifikasi Eropa yang dinilai tidak efisien.
Masalahnya jelas: hanya juara grup yang lolos otomatis. Akibatnya, tim-tim raksasa seperti Inggris, Belanda, Norwegia, Swedia, dan Irlandia harus terjun ke play-off dan berhadapan dengan tim-tim kecil yang peringkatnya jauh di bawah mereka. Hasilnya bisa ditebak, terjadi hujan gol yang tidak seimbang. Belanda menang agregat 11-0 atas Hongaria, Norwegia menghancurkan Rumania 8-0, dan Swedia membantai lawannya 15-0.
Pelatih Inggris, Sarina Wiegman, mengakui situasi ini sebagai kenyataan pahit. Meski ia menegaskan fokus utamanya adalah lolos, ia menyerahkan evaluasi format ke UEFA. Inggris masih harus melewati satu ronde lagi melawan Ukraina pada Desember mendatang, tim yang sudah mereka kalahkan dua kali di fase grup. Kritik pun muncul: bukankah tidak masuk akal harus mengalahkan tim yang sama hingga tiga kali hanya untuk sekadar lolos?
Analisis Dampak: Bagi masyarakat pecinta sepak bola, format ini mengurangi daya tarik kompetisi karena ketidakseimbangan kekuatan membuat pertandingan menjadi tidak kompetitif. Ini juga menjadi alarm bagi UEFA untuk segera mereformasi sistem agar pertumbuhan sepak bola wanita di negara-negara tier bawah tetap terjaga dan tidak hanya menjadi 'korban' dari tim elit yang tersingkir dari jalur otomatis.