Jakarta, Media Online – Meskipun gencatan senjata sudah berlaku sejak 8 April lalu, hubungan Amerika Serikat dan Iran masih panas. Buktinya, kedua negara saling serang menggunakan rudal dan drone. Militer AS melalui Central Command (CENTCOM) mengaku telah menghancurkan radar dan pangkalan drone Iran di Pulau Qeshm serta Kota Goruk pada akhir pekan lalu. Serangan ini disebut sebagai balasan atas aksi Iran yang menembak jatuh drone MQ-1 milik AS di perairan internasional.
Tak tinggal diam, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung membalas. Mereka mengklaim telah menghantam sebuah pangkalan udara AS yang digunakan untuk menyerang menara telekomunikasi di selatan Iran. Meski lokasi pasti pangkalan itu dirahasiakan, serangan ini menunjukkan bahwa eskalasi masih terus berlanjut. Selain itu, pertahanan udara Kuwait yang menjadi markas besar militer AS juga berhasil mencegat serangan rudal dan drone pada hari yang sama.
Ketegangan ini diperparah oleh blokade nyata di jalur pelayaran strategis. Iran masih memblokade Selat Hormuz, sementara AS menerapkan blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran. Situasi ini membuat negosiasi damai yang sedang berlangsung semakin rumit. Di sisi lain, kelompok oposisi Kurdi di Irak juga ikut menjadi sasaran. Seorang pejabat senior Partai Komala mengungkapkan bahwa IRGC menembakkan dua rudal ke markas mereka di Lembah Alana, Irak utara, Senin malam.
Analisis Dampak: Serangan sporadis ini jelas membuat kawasan Teluk kembali memanas. Jika blokade Selat Hormuz terus berlanjut, pasokan minyak dunia bisa terganggu dan harga BBM di Indonesia berpotensi naik. Publik perlu mewaspadai dampak tidak langsung dari konflik ini, terutama pada stabilitas ekonomi global dan harga energi.