HARGA MINYAK DUNIA MELEDAK DI TENGAH PERANG - Berita Dunia
← Kembali

HARGA MINYAK DUNIA MELEDAK DI TENGAH PERANG

Foto Berita

Harga minyak mentah dunia terus meroket meski pasokan dari kawasan Teluk sudah kembali normal. Brent crude kini diperdagangkan lebih dari 60 persen di atas level sebelum perang, bahkan sempat menembus 117 dolar AS per barel pada Jumat lalu.

Menurut data firma intelijen pasar Kpler, ekspor minyak mentah dari Teluk mencapai rata-rata 24,6 juta barel per hari pada pekan hingga 18 Oktober, melampaui rata-rata sebelum konflik meletus. Artinya, secara fisik minyak tetap mengalir deras ke pasar global.

Namun pasar tetap gelisah. Analis menilai kenaikan harga mencerminkan kekhawatiran atas potensi eskalasi baru dalam perang AS-Israel terhadap Iran, menipisnya stok minyak global, serta melonjaknya biaya pengiriman. Para pelaku pasar berpendapat bahwa tidak ada tanda-tanda perang akan berakhir, sehingga kontrak berjangka minyak pun terus naik.

Untuk menjaga pasokan, para produsen minyak menerapkan strategi luar biasa. Jalur pelayaran di Selat Hormuz kini menggunakan sistem antar-jemput kapal (ship-to-ship transfer) di lepas pantai Oman dan UEA. Pada Agustus, lebih dari 70 persen minyak yang melintasi selat tersebut dikirim melalui cara ini. Selain itu, sekitar 40 persen ekspor Teluk kini melewati jalur pipa alternatif seperti East-West Pipeline milik Arab Saudi dan Habshan-Fujairah milik UEA, naik dari hanya 17 persen sebelum perang.

Namun strategi ini bukannya tanpa harga. Biaya pengiriman melonjak hingga 40 dolar AS per barel, sekitar 10 kali lipat dari tarif normal, akibat premi asuransi yang meledak dan tantangan logistik. Oktober tercatat sebagai bulan paling mematikan bagi kapal komersial, dengan 32 insiden serangan yang dilaporkan UKMTO hingga Jumat lalu.

Dampak bagi Masyarakat: Kenaikan harga minyak global ini berpotensi menekan ekonomi domestik Indonesia. Harga BBM nonsubsidi, tarif listrik, dan biaya transportasi berisiko ikut naik jika pemerintah tidak segera mengantisipasi. Masyarakat perlu bersiap menghadapi tekanan inflasi, terutama pada harga pangan dan kebutuhan pokok yang bergantung pada distribusi bahan bakar.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook