Jagat maya dunia digemparkan oleh temuan dua celah keamanan kritis pada PHP, bahasa pemrograman yang menjadi tulang punggung lebih dari 70 persen situs web di seluruh dunia. Temuan ini sontak memicu respons darurat dari berbagai negara, termasuk penghentian sementara operasional sejumlah situs pemerintah.
Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) secara langka mengeluarkan peringatan publik, mengimbau agar organisasi segera memperbarui sistem atau menonaktifkan situs mereka jika belum bisa melakukan pembaruan. Langkah preventif serupa juga diambil oleh Jerman, Prancis, Belgia, Belanda, Finlandia, dan Republik Ceko yang memilih mematikan sementara situs resmi mereka untuk memasang tambalan keamanan.
Celah yang dijuluki 'PHP2Shell' ini ditemukan oleh para ahli keamanan siber dengan bantuan model kecerdasan artifisial (AI). Perusahaan keamanan Wiz menyebut temuan ini sebagai salah satu yang paling parah dalam sejarah perangkat lunak. Masalahnya, celah ini sudah ada selama puluhan tahun, namun baru terungkap berkat kemampuan AI yang mampu menguji lebih banyak skenario serangan dibandingkan kemampuan manusia.
Dampaknya bagi masyarakat sangat luas. Karena PHP digunakan oleh mayoritas situs, termasuk layanan publik dan e-commerce, celah ini berpotensi memungkinkan penyerang mengambil alih server dari jarak jauh tanpa perlu kata sandi. Yayasan PHP pun mendesak para pengelola situs untuk segera melakukan pembaruan, seraya mengingatkan bahwa AI akan semakin mempermudah penemuan celah serupa di masa depan.