LASER GANTI RUDAL MAHAL: SIAP REVOLUSI PERANG UDARA? - Berita Dunia
← Kembali

LASER GANTI RUDAL MAHAL: SIAP REVOLUSI PERANG UDARA?

Foto Berita

Bayangkan sebuah senjata yang bisa menembak jatuh ribuan drone murah tanpa perlu mengeluarkan biaya miliaran dolar untuk rudal. Mungkinkah teknologi laser menjadi jawaban akhir bagi ancaman serangan udara yang masif dan efisien? Inilah yang tengah dikejar mati-matian oleh raksasa pertahanan dunia.

Para produsen senjata global kini berlomba menciptakan sistem pertahanan udara berbasis laser berenergi tinggi. Senjata ini digadang-gadang mampu menghentikan serangan drone, roket, bahkan proyektil artileri. Israel, melalui Kementerian Pertahanan dan produsen senjata Rafael, menjadi salah satu pelopor yang sudah mendemonstrasikan kemampuan senjata laser mereka, Iron Beam. Dalam sebuah video, Iron Beam sukses melumpuhkan drone musuh dengan sekejap, menandai terwujudnya mimpi panjang para insinyur sejak penemuan laser tahun 1960-an.

Kebutuhan akan sistem pertahanan laser ini kian mendesak seiring masifnya penggunaan drone murah dalam konflik modern, seperti yang dilakukan kelompok-kelompok seperti Hizbullah, Hamas, atau Houthi Yaman. Menghadapi ribuan drone yang relatif murah dengan rudal pertahanan udara yang harganya bisa mencapai jutaan dolar per unit tentu bukan pilihan yang berkelanjutan. Di sinilah laser menawarkan solusi yang jauh lebih efisien dari segi biaya.

Kondisi ini memicu 'demam emas' di industri pertahanan global. Sejumlah kontrak besar sudah diteken: Rafael dan Elbit Systems dari Israel mendapat kontrak $500 juta untuk Iron Beam. Angkatan Laut AS menggandeng Lockheed Martin untuk mempersenjatai kapalnya. Inggris, melalui MBDA, mengamankan kontrak £316 juta untuk sistem DragonFire yang ditargetkan rampung 2027. MBDA juga bekerja sama dengan raksasa pertahanan Jerman, Rheinmetall, untuk mengembangkan sistem serupa pada 2029. Prancis tak ketinggalan, bekerja sama dengan MBDA dan pemain lokal lainnya. Sementara itu, perusahaan Australia, Electro-Optical Systems (EOS), juga menikmati cuan dari 'demam' ini, dengan kontrak senilai €71 juta dari Belanda dan $80 juta dari Korea Selatan.

Perkembangan senjata laser ini akan membawa dampak besar pada dinamika pertahanan udara global. Bukan hanya menjanjikan efisiensi biaya yang signifikan bagi negara-negara dalam menghadapi ancaman modern, teknologi ini juga berpotensi menjadi 'game changer' dalam peperangan. Dengan kemampuan menetralkan ancaman udara secara cepat dan murah, senjata laser bisa mengubah strategi militer dan perimbangan kekuatan di medan perang masa depan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook