Situasi di Lebanon makin genting. Presiden Joseph Aoun sedang menghadapi masa-masa paling krusial dalam kepemimpinannya. Tekanan dari Amerika Serikat dan Israel untuk melucuti senjata kelompok Hezbollah kian menguat, bahkan di tengah terus berlangsungnya pelanggaran gencatan senjata oleh Israel sendiri. Masyarakat Lebanon pun dibuat waswas, khawatir negara mereka kembali terjerumus dalam pusaran konflik.
Dalam beberapa minggu dan bulan ke depan, serangkaian agenda penting akan mewarnai panggung politik Lebanon. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF), Rodolphe Haykal, dijadwalkan berkunjung ke Washington DC pada Februari. Di bulan yang sama, LAF juga akan menyerahkan rencana tahap kedua pelucutan senjata Hezbollah. Puncaknya, pada Maret mendatang, Paris akan menjadi tuan rumah konferensi internasional untuk mendukung militer Lebanon. Ini semua adalah bagian dari upaya menekan Beirut agar menindaklanjuti pelucutan senjata.
Ironisnya, tekanan ini datang bersamaan dengan intensifnya serangan Israel di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa. Padahal, gencatan senjata yang disepakati November 2024 lalu seharusnya sudah mengakhiri serangan lintas batas tersebut. Pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, sudah tegas menyatakan tak akan menerima pelucutan senjata di utara Sungai Litaniāsebuah garis batas penting di Lebanon selatanākecuali Israel benar-benar mematuhi gencatan senjata. Sayangnya, Israel terus membombardir Lebanon hampir setiap hari dan masih menduduki sebagian wilayah selatan.
Presiden Aoun kini berada di posisi yang sangat sulit. Ia harus mencari cara melucuti Hezbollah tanpa memicu perang saudara baru, yang sama sekali tidak diinginkan oleh rakyat Lebanon yang masih trauma. Di sisi lain, ia juga dituntut membujuk Israel agar berhenti menyerang. Ini bukan perkara mudah, mengingat militer Lebanon (LAF) saat ini kekurangan personel, dana, dan peralatan untuk ditempatkan di seluruh Lebanon selatan, apalagi menghadapi Israel secara militer.
Melihat kondisi ini, Aoun memilih jalur diplomasi. Ia bergerak aktif melibatkan aktor-aktor internasional untuk mendukung LAF dan menekan Israel agar mematuhi gencatan senjata. Langkah ini krusial untuk mempermudah proses pelucutan senjata Hezbollah. Seperti diungkapkan Souhaib Jawhar, peneliti dari Badil, Alternative Policy Institute, Aoun kini lebih berfokus mencegah keruntuhan total daripada memaksakan penyelesaian akhir yang terburu-buru.
Konteks konflik ini bermula sejak 8 Oktober 2023, sehari setelah operasi yang dipimpin Hamas di selatan Israel memicu perang Israel-Palestina. Serangan lintas batas antara Israel dan Hezbollah terus berlanjut hingga gencatan senjata disepakati pada 27 November 2024. Namun, Israel secara sepihak kembali mengintensifkan serangannya pada September 2024, bahkan menginvasi Lebanon selatan pada Oktober. Akibatnya, hampir 4.000 warga Lebanon tewas, termasuk ratusan warga sipil. Hezbollah sendiri mengalami pelemahan signifikan baik sebagai kekuatan militer maupun politik.
Bagi masyarakat Lebanon, situasi ini sangat mengkhawatirkan. Ancaman perang sipil dan agresi eksternal terus menghantui. Ribuan warga di wilayah selatan hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian akibat serangan berkelanjutan. Instabilitas politik dan keamanan ini juga berdampak besar pada perekonomian Lebanon yang sudah rapuh, menghambat pemulihan dan pembangunan. Jalan diplomasi adalah satu-satunya harapan untuk mencegah Lebanon terjerumus ke dalam krisis yang lebih dalam, namun keberhasilannya sangat bergantung pada keseriusan semua pihak untuk mematuhi kesepakatan dan menghentikan kekerasan.