Harga minyak mentah dunia ambles setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat menandatangani gencatan senjata sementara. Brent crude langsung merosot 2,3 persen pada perdagangan Kamis pagi di Asia, kembali ke level sebelum sempat melonjak akibat ancaman Presiden AS Donald Trump.
Brent untuk pengiriman Agustus kini bertengger di 77,73 dolar AS per barel. Angka ini hanya naik 7 persen dari posisi sebelum perang AS-Israel mengguncang Iran pada 28 Februari lalu. Sehari sebelumnya, Brent sempat melesat di atas 81 dolar setelah Trump mengancam akan kembali membom Iran jika negara itu tidak bersikap kooperatif.
Di sisi lain, bursa Asia justru berpesta. Investor menyambut gembira prospek berakhirnya kekacauan rantai pasok energi global yang sudah berlangsung hampir empat bulan. Indeks Nikkei 225 Jepang dan Kospi Korea Selatan mencetak rekor all-time high, masing-masing naik 2 persen dan 1,7 persen. Taiex Taiwan juga terdongkrak 1,3 persen. Namun, Hang Seng Hong Kong malah terperosok 1,7 persen.
Kesepakatan damai ini disebut mulai berlaku segera setelah ditandatangani. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang menjadi mediator, mengumumkan Iran akan membuka kembali Selat Hormuz secara instan, sementara AS mencabut blokade laut di pelabuhan Iran. Namun, para pengamat masih meragukan efektivitasnya. Lebih dari 500 kapal masih mengantre untuk keluar dari Teluk, dan perusahaan pelayaran mengeluhkan ketidakjelasan prosedur keamanan.
Analis Oxford Economics, Norihiro Yamaguchi, menilai pasar lega karena gencatan senjata terjadi lebih cepat dari perkiraan. Momentum ini juga didukung oleh selesainya rangkaian pertemuan bank sentral utama dunia, yang mengurangi ketidakpastian. Ia menambahkan, penguatan saham semikonduktor AS akan menjadi bonus tambahan bagi pasar Asia yang sarat dengan saham teknologi.