Elias Antonio Saca, mantan Presiden El Salvador, akhirnya menghirup udara bebas setelah menjalani hukuman 10 tahun penjara atas kasus korupsi. Pria berusia 61 tahun itu resmi melapor ke pengadilan pada Kamis lalu untuk menandai berakhirnya masa hukumannya, setelah memenuhi seluruh kesepakatan plea bargain yang disepakati.
Dalam perjanjian tersebut, Saca mengaku telah menggelapkan dan mencuci uang lebih dari $300 juta dari kas negara selama masa pemerintahannya pada 2004-2009. Pengacaranya, Mario Machado, menegaskan bahwa kliennya menjalani hukuman secara penuh tanpa mendapat keringanan atau pembebasan dini.
Perjalanan kasus ini bermula saat Saca ditangkap di tengah acara pernikahan anaknya pada 2016. Pada September 2018, ia divonis lima tahun penjara untuk penggelapan dan lima tahun lagi untuk pencucian uang. Plea bargain yang diambilnya menyelamatkannya dari ancaman hukuman 30 tahun penjara. Pada 2019, Saca kembali dinyatakan bersalah karena mencoba menyuap pegawai pengadilan $10.000 untuk mendapatkan informasi kasus yang menjeratnya, namun hakim memutuskan hukuman tambahan itu digabung ke dalam vonis 10 tahun yang sudah ada.
Jaksa dalam persidangan awal mengungkap bahwa Saca menyelewengkan dana APBN untuk kepentingan pribadi dan pihak lain, termasuk mengambil lebih dari $7 juta untuk partainya, Aliansi Republikan Nasionalis (ARENA). Ia juga diperintahkan mengembalikan $260 juta ke kas negara.
Saca merupakan salah satu dari empat presiden El Salvador yang menghadapi tuduhan korupsi. Penerusnya, Mauricio Funes, melarikan diri ke Nikaragua pada September 2016 dan meninggal di sana pada 2025. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi publik tentang pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan negara, sekaligus menunjukkan bahwa hukum bisa menjerat siapa pun, termasuk mantan kepala negara.