MotoGP memastikan gelaran Qatar Grand Prix tetap berlangsung pada 6-8 November mendatang di Sirkuit Internasional Lusail. Keputusan ini diambil meski tensi keamanan di kawasan Timur Tengah sedang meninggi pasca serangan udara yang menghantam bandara internasional Riyadh, Arab Saudi.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Dampaknya, sejumlah event olahraga bergengsi di Arab Saudi seperti Saudi International golf, Urban Cycling World Championships, dan FIFAe World Cup terpaksa dibatalkan. Pemerintah Amerika Serikat bahkan telah memerintahkan sejumlah diplomat dan keluarganya untuk meninggalkan misi mereka di Arab Saudi.
Meski begitu, sumber internal MotoGP kepada Reuters menegaskan bahwa balapan di Qatar tetap masuk kalender dan persiapan terus berjalan. Keselamatan dan kesejahteraan semua pihak yang terlibat disebut menjadi prioritas utama. Formula One (F1) juga berencana tetap menggelar dua seri terakhirnya di Qatar dan Abu Dhabi sesuai jadwal. Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem, menyebut situasi di kawasan saat ini masih 'baik-baik saja'.
Dari sisi kompetisi, ajang MotoGP sendiri sedang berada di fase krusial. Setelah 17 dari 22 seri, persaingan gelar juara dunia masih sangat ketat. Pembalap Aprilia, Jorge Martin, memimpin klasemen dengan keunggulan hanya dua poin atas juara bertahan dari Ducati, Marc Marquez, jelang balapan di Sirkuit Phillip Island akhir pekan ini.
Martin sendiri mengaku siap jika harus tetap balapan di Qatar. Menurutnya, Sirkuit Lusail adalah trek yang luar biasa. Ia menegaskan tidak ada pihak yang mengatakan mereka tidak akan pergi. 'Ini hanya balapan biasa. Jika kami pergi, bagus. Jika tidak, tidak masalah. Jika penyelenggara memutuskan kami bisa pergi, itu berarti keselamatan kami terjamin,' ujarnya.
Sebagai informasi, Qatar Grand Prix telah menjadi langganan tetap di kalender MotoGP sejak debutnya pada 2004 silam. Satu-satunya interupsi terjadi pada 2020 lalu ketika balapan dibatalkan akibat pandemi COVID-19.