Suasana pidato kenegaraan Presiden AS Donald Trump mendadak tegang ketika seorang anggota DPR dari Partai Demokrat, Al Green, diusir dari ruangan. Insiden dramatis ini dipicu oleh aksi Green yang mengangkat plakat berisi protes keras terhadap pernyataan rasial yang sempat dilontarkan Trump di media sosialnya, membangkitkan kembali isu sensitif yang selama ini membelah Amerika Serikat.
Momen mengejutkan itu terjadi saat pidato State of the Union yang biasanya menjadi forum persatuan, di mana Al Green dengan berani menunjukkan plakat bertuliskan "Black people are not apes" (Orang kulit hitam bukanlah kera). Aksi ini merupakan respons langsung terhadap unggahan Trump di platform Truth Social awal bulan ini. Unggahan kontroversial tersebut secara eksplisit menggambarkan mantan Presiden Barack Obama dan mantan Ibu Negara Michelle Obama sebagai kera.
Pengusiran anggota parlemen dari acara sepenting pidato kenegaraan adalah kejadian langka yang menggarisbawahi dalamnya jurang perpecahan politik dan rasial di Amerika. Tindakan Al Green bukan hanya sekadar protes individu, melainkan representasi dari kegeraman publik terhadap retorika yang dianggap merendahkan dan berbau rasisme, terutama ketika datang dari seorang pemimpin negara. Insiden ini tak pelak memicu perdebatan sengit tentang etika berpolitik, kebebasan berekspresi, serta dampak serius dari ujaran kebencian di ruang publik, yang berpotensi makin memperlebar polarisasi masyarakat AS. Banyak pihak khawatir, retorika semacam ini bisa merusak tatanan sosial dan memicu ketegangan yang lebih luas.