Elon Musk berada di pusat perhatian setelah Partai Republik mengalami kekalahan telak dalam pemilihan midterm AS. Meskipun telah menggelontorkan dana fantastis mencapai 446 juta dolar AS (sekitar Rp7 triliun) untuk mendukung kampanye mereka, hasilnya jauh dari harapan. Partai Demokrat berhasil mengamankan kendali atas Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat, sekaligus menang di negara bagian yang selama ini dianggap benteng kuat Republik seperti Texas dan Kansas.
Kegagalan ini memicu reaksi santai dari Musk di platform X. Ia berkelakar tentang 'laser luar angkasa' miliknya yang dianggap gagal berfungsi untuk memenangkan suara. Dana besar tersebut sebagian besar dialirkan ke America PAC dan Senate Leadership Fund, termasuk 158 juta dolar AS untuk mendukung Ken Paxton di Texas. Namun, Paxton kalah dari kandidat Demokrat, James Talarico, yang justru gencar menolak rencana pembangunan pusat data AI besar-besaran di Texas.
Dampak dari kekalahan ini sangat signifikan bagi arah kebijakan publik di AS. Kemenangan Talarico menandakan penolakan masyarakat terhadap ekspansi industri AI yang terlalu agresif tanpa regulasi ketat, yang selama ini didukung oleh para pendukung Musk. Selain itu, kekalahan ini menunjukkan bahwa uang besar tidak selalu menjamin kemenangan politik, mengingat kandidat Demokrat lainnya, Gina Hinojosa, juga berhasil mengalahkan Gubernur petahana Greg Abbott meskipun Musk menyumbang 5 juta dolar AS. Fenomena ini menyoroti kembali perdebatan tentang pengaruh uang dalam politik AS pasca putusan Mahkamah Agung 2010 yang membebaskan belanja politik korporasi.