Kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer ke China minggu ini menjadi sorotan tajam, menandai potensi mencairnya hubungan yang sempat membeku antara London dan Beijing. Starmer, didampingi delegasi besar pengusaha dan tokoh budaya, disambut hangat langsung oleh Presiden China Xi Jinping. Momen keakraban ini menunjukkan sinyal kuat bahwa Inggris ingin kembali membuka pintu kerja sama ekonomi dan budaya yang lebih luas dengan raksasa Asia tersebut.
Namun, kehangatan di Beijing itu justru berbanding terbalik dengan reaksi dingin yang datang dari Gedung Putih. Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tak sungkan menyebut kunjungan Starmer sebagai tindakan yang "berbahaya". Pernyataan keras Trump ini langsung memicu pertanyaan besar: Mengapa ia menilainya berbahaya, dan seberapa penting sebenarnya kunjungan PM Inggris kali ini?
Analisis dari berbagai pihak menunjukkan, langkah Starmer ini bisa dilihat sebagai upaya strategis Inggris pasca-Brexit untuk mendiversifikasi kemitraan global dan mengurangi ketergantungan ekonomi pada blok tertentu. Dengan menjalin kembali hubungan baik dengan China, Inggris berharap bisa meraih peluang investasi dan perdagangan yang besar. Ini juga bisa menjadi sinyal bahwa Inggris ingin menyeimbangkan kebijakan luar negerinya yang selama ini kerap sejajar dengan Amerika Serikat, terutama dalam isu-isu sensitif terkait China seperti hak asasi manusia, Hong Kong, atau Huawei.
Di sisi lain, reaksi marah dari Trump—yang juga berpotensi kembali maju dalam Pemilu AS mendatang—menggarisbawahi kekhawatiran Amerika Serikat terhadap pengaruh China yang terus berkembang. Washington melihat Beijing sebagai pesaing utama di panggung global, dan setiap upaya sekutu dekat seperti Inggris untuk mendekat ke China dapat dianggap melemahkan strategi AS dalam menekan Beijing. Trump mungkin khawatir kunjungan ini akan membuka celah bagi transfer teknologi sensitif, atau bahkan mengikis front persatuan Barat melawan apa yang AS anggap sebagai praktik tidak adil China di bidang perdagangan dan geopolitik. Artinya, langkah PM Starmer ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah manuver diplomatik yang berisiko tinggi dan bisa memicu ketegangan baru antara sekutu Barat.