Ribuan warga di Denmark dan Greenland turun ke jalan pada hari Sabtu, menunjukkan dukungan kuat untuk Greenland dan menolak keras keinginan Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih wilayah otonom tersebut. Aksi protes besar-besaran ini digelar serentak di berbagai kota.
Massa membanjiri Balai Kota Kopenhagen, ibukota Denmark, mengibarkan bendera Denmark dan Greenland, serta lantang meneriakkan "Kalaallit Nunaat"—nama Greenland dalam bahasa setempat. Unjuk rasa serupa juga berlangsung di Aarhus, Aalborg, Odense, serta di ibu kota Greenland sendiri, Nuuk.
Aksi ini pecah setelah Trump berulang kali mengancam akan memberlakukan tarif 10% kepada beberapa sekutu Eropa, termasuk Denmark, yang menentang rencananya menguasai Greenland. Ancaman tarif ini akan dimulai 1 Februari dan akan naik menjadi 25% pada 1 Juni, jika AS tidak berhasil membeli Greenland. Trump beralasan, langkah ini krusial demi kepentingan Amerika Serikat.
Baik Denmark maupun Greenland sudah tegas menolak mentah-mentah gagasan bahwa pulau itu bisa "dimiliki" oleh AS. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, bahkan mengungkapkan kepada reporter bahwa Presiden Trump punya "keinginan untuk menaklukkan Greenland". Pertemuan diplomatik dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di Washington, DC, minggu ini pun tidak berhasil mengubah posisi Amerika.
Julie Rademacher, Ketua Uagut—sebuah organisasi untuk warga Greenland di Denmark—menyerukan agar "dunia harus bangun". Ia menambahkan, Greenland dan warganya secara tidak sengaja telah menjadi garis depan dalam perjuangan demokrasi dan hak asasi manusia.
Data jajak pendapat terakhir yang diterbitkan Januari tahun lalu menunjukkan mayoritas kuat: 85% warga Greenland menolak bergabung dengan AS, sementara hanya 6% yang setuju. Rory Challands, jurnalis Al Jazeera yang meliput dari Nuuk, melaporkan bahwa unjuk rasa ini adalah bukti persatuan antara Denmark dan Greenland. Menurutnya, meskipun warga di sana mungkin berharap Greenland suatu saat bisa merdeka, saat ini mereka bersatu demi mengatasi krisis ini.
Menariknya, bahkan di dalam negeri AS, sejumlah anggota parlemen—termasuk dari Partai Republik yang menaungi Trump—turut menyuarakan penolakan terhadap ambisi presiden menguasai Greenland. Mereka khawatir langkah tersebut dapat mengancam stabilitas global dan komitmen AS.