Pertandingan sepak bola Under-20 di Minas Gerais, Brazil, berubah menjadi kekacauan total. Wasit Fernando Patrick Drosghic Modesto terpaksa mengeluarkan 53 kartu merah dalam satu laga antara Uberlandia dan Mamore. Ini memecahkan rekor dunia sebelumnya yang mencatat 36 kartu merah.
Kerusuhan dimulai pada babak kedua ketika sejumlah petinggi Uberlandia menyerbu lapangan sebagai protes atas kartu merah yang diterima pemain mereka. Pertandingan sempat terhenti 40 menit. Setelah dilanjutkan, Mamore mencetak gol di menit ke-9 injury time, memicu keributan besar karena selebrasi provokatif pemain Mamore, Davi.
Wasit melaporkan bahwa baku hantam massal terjadi di menit ke-54 babak kedua, membuatnya tidak bisa lagi mengeluarkan kartu merah satu per satu. Ia pun menyatakan pertandingan berakhir karena situasi tidak kondusif dan minim keamanan. Total 43 pemain, 8 staf pelatih, dan 2 anggota dewan Uberlandia dikartu merah. Polisi juga menerima laporan ancaman terhadap wasit, dan ruang ganti Mamore dirusak.
Uberlandia kemudian memutuskan mundur dari leg kedua semifinal sebagai 'gestur fair play' karena Mamore kekurangan pemain yang memenuhi syarat. Keputusan ini membuat Mamore otomatis lolos ke final. Pihak klub Uberlandia menyatakan telah mengambil tindakan disipliner internal terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Analisis Dampak: Insiden ini menjadi sorotan serius bagi federasi sepak bola Brazil dan dunia. Rekor 53 kartu merah bukan hanya angka, tapi cerminan buruknya sportivitas dan pengelolaan emosi di level akar rumput. Bagi masyarakat, kejadian ini mencoreng citra sepak bola sebagai olahraga yang mendidik. Penting bagi otoritas untuk mengevaluasi sistem keamanan pertandingan dan pendidikan karakter bagi pemain muda. Tanpa tindakan tegas, kekerasan di lapangan bisa terus terulang dan menjauhkan penonton dari atmosfer positif olahraga.