RAHASIA GELAP DI BALIK GADGET: NYAWA ANAK MELAYANG - Berita Dunia
← Kembali

RAHASIA GELAP DI BALIK GADGET: NYAWA ANAK MELAYANG

Foto Berita

Tragedi memilukan kembali menyelimuti wilayah pertambangan Rubaya, Republik Demokratik Kongo (RDK). Sedikitnya 70 anak dilaporkan tewas akibat longsor di tambang Rubaya, sumber utama koltan dunia. Peristiwa nahas ini terjadi setelah hujan deras mengguyur area tersebut, membuat lereng tambang yang curam dan terbuka menjadi sangat tidak stabil.

Ini bukan kali pertama. Sebulan sebelumnya, bencana serupa di lokasi tambang Kasasa juga menewaskan ratusan orang, termasuk puluhan anak-anak yang terpaksa bekerja sebagai penambang artisanal. Salah satu yang selamat adalah Mishiki Nshokano, remaja 15 tahun. Meski baru pulih dari trauma kehilangan teman-temannya, Mishiki tak punya pilihan selain kembali ke lubang tambang demi menopang keluarganya. Ia hanya digaji sekitar 10.000 franc Kongo atau setara 4 dolar AS per hari untuk mengangkut karung-karung koltan.

Ironisnya, Rubaya adalah kota yang kaya akan mineral berharga seperti koltan, timah, dan tungsten—bahan baku esensial untuk teknologi modern seperti smartphone dan mobil listrik. Namun, banyak penambang, terutama anak-anak, bahkan tidak tahu untuk apa material yang mereka gali itu digunakan. Mereka hanya berjuang untuk bertahan hidup di tengah kemiskinan ekstrem.

Situasi ini diperparah oleh konflik berkepanjangan. Wilayah tambang Rubaya menjadi ajang perebutan kekuasaan antara tentara Kongo dan berbagai kelompok bersenjata, termasuk M23 yang didukung Rwanda. Konflik ini tak hanya menciptakan lingkungan kerja yang sangat tidak aman, tetapi juga mempersulit regulasi terhadap praktik penambangan ilegal yang mempekerjakan anak-anak. Meski secara hukum ilegal, sektor pertambangan informal ini nyaris tanpa pengawasan.

Kisah Mishiki, yang ayahnya juga tewas di tambang pada 2022, menjadi cerminan pahit. Alih-alih bersekolah dan meraih cita-cita menjadi dokter bedah, ia harus menggali masa depan yang semakin buram demi keluarganya. Tragedi di Rubaya membuka mata kita tentang 'harga tersembunyi' di balik kecanggihan teknologi modern. Permintaan global yang tinggi terhadap mineral seperti koltan secara tidak langsung berkontribusi pada lingkaran setan eksploitasi anak, kemiskinan, dan konflik di salah satu negara termiskin namun terkaya mineral di dunia.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook