Tim hoki es putri Amerika Serikat, peraih medali emas Olimpiade, dengan sopan menolak undangan Presiden Donald Trump untuk hadir di pidato kenegaraannya, sebuah keputusan yang memicu berbagai pertanyaan di tengah riuhnya panggung politik dan olahraga.
Penolakan ini dikonfirmasi langsung oleh tim putri melalui pernyataan resmi. Mereka beralasan jadwal yang sudah sangat padat serta komitmen akademik dan profesional yang sudah jauh hari direncanakan pasca-Olimpiade menjadi penghalang utama. Tim menyatakan sangat menghargai undangan serta pengakuan atas prestasi luar biasa mereka, namun tidak bisa memenuhi kehadiran.
Undangan ini muncul setelah tim hoki putri AS berhasil merebut medali emas Olimpiade, sebuah prestasi membanggakan yang terakhir mereka raih pada tahun 2018 silam. Menariknya, Presiden Trump juga sempat bercanda bahwa ia "bisa dimakzulkan" jika tidak turut mengundang tim putri setelah sebelumnya mengundang tim hoki putra. Tim hoki putra sendiri, yang juga meraih medali, tampak antusias menerima undangan tersebut dan terdengar mengatakan, "Kami ikut!"
Keputusan tim putri ini, meski secara resmi disebut karena bentrok jadwal, tak pelak memicu berbagai spekulasi. Di era politik Amerika Serikat yang seringkali terpolarisasi, interaksi antara atlet berprestasi dan Gedung Putih kerap menjadi sorotan. Penolakan serupa, di mana atlet atau tim menolak undangan dari pemimpin negara karena alasan pribadi, politik, atau jadwal, bukanlah kali pertama terjadi. Hal ini menunjukkan independensi para atlet dalam mengambil sikap, bahkan terhadap undangan dari presiden, dan menjadi pengingat bahwa prestasi di lapangan tidak selalu berjalan seiring dengan agenda politik. Ini juga menyoroti bagaimana figur publik menyeimbangkan komitmen profesional mereka dengan potensi keterlibatan politik.