LONDON — Raja Inggris Charles III resmi menerima kunjungan kenegaraan Sultan Oman Haitham bin Tariq di Kastil Windsor. Ini menjadi kunjungan kenegaraan pertama seorang Sultan Oman ke Inggris dalam 44 tahun terakhir, menandai babak baru hubungan bilateral kedua negara di tengah gejolak politik Timur Tengah.
Dalam jamuan kenegaraan yang dihadiri sekitar 160 tamu penting—termasuk para petinggi perusahaan raksasa seperti Shell, BP, dan Airbus—Raja Charles memberikan pujian khusus atas peran Oman sebagai penengah konflik. Ia menyoroti komitmen Muscat dalam membantu upaya pembukaan kembali Selat Hormuz yang sempat terhambat, serta posisi unik Oman yang mampu dipercaya oleh semua pihak yang berseteru.
Sultan Haitham bin Tariq dalam pidatonya menegaskan bahwa negaranya memilih jalur independen dan diplomasi, meski berada di kawasan yang panas oleh konflik. Ia menyebut Inggris sebagai sahabat lama yang konsisten mendukung peran tersebut. Kunjungan ini juga diwarnai agenda pertemuan politik dan ekonomi, di mana isu keamanan, perdagangan, dan investasi menjadi fokus utama dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, di Downing Street.
Analisis Dampak: Kunjungan ini bukan sekadar seremonial. Bagi masyarakat global, posisi Oman sebagai mediator krusial di Selat Hormuz—jalur pelayaran minyak vital dunia—menjadi angin segar di tengah ketegangan AS-Iran. Stabilitas di kawasan ini berdampak langsung pada harga energi dan keamanan pasokan global. Sementara bagi Indonesia, diplomasi ala Oman ini bisa menjadi contoh bagaimana negara kecil dapat memainkan peran besar dalam perdamaian dunia tanpa harus ikut arus konflik militer.