Jakarta, Medialoka.com – Pemerintah Amerika Serikat (AS) memastikan timnas Iran harus meninggalkan wilayah AS dalam hitungan jam setelah pertandingan Piala Dunia 2026 berakhir. Kebijakan super ketat ini langsung menuai kritik karena dianggap tidak manusiawi bagi para pemain.
Andrew Giuliani, Direktur Eksekutif Satgas FIFA Gedung Putih, menjelaskan aturan mainnya. Tim Iran cuma diizinkan masuk sehari sebelum laga dan wajib cabut malam harinya. Prosedur ini berlaku untuk semua pertandingan fase grup di Los Angeles dan Seattle.
“Mereka boleh datang H-1 pertandingan. Lalu harus pergi di malam hari setelah laga usai. Aturan ini berlaku untuk semua laga,” tegas Giuliani dalam wawancara dengan CBS News.
Kebijakan ini langsung terasa dampaknya. Usai menahan imbang Selandia Baru di Los Angeles, seluruh delegasi Iran langsung dipulangkan ke basecamp mereka di Meksiko. Pelatih Amir Ghalenoei mengaku kecewa karena timnya tak bisa beristirahat dan memulihkan tenaga layaknya tim lain.
“Kami berharap bisa menginap untuk pemulihan, tapi ternyata harus langsung pergi,” keluh Ghalenoei.
Masalah makin runyam saat visa pemain sayap Mehdi Torabi kedaluwarsa sepulang dari laga pertama. Beruntung, Kementerian Luar Negeri AS segera menerbitkan visa baru yang multipel entri. “Kami langsung bergerak begitu tahu ada masalah. Pemain ini sekarang bisa tampil di semua laga,” janji juru bicara Departemen Luar Negeri AS.
Di balik semua ini, ada alasan politik yang keras. Giuliani mengungkapkan, staf pendukung dan ofisial tim Iran yang memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilarang keras masuk AS. “Menteri Luar Negeri Marco Rubio sudah bilang, siapapun yang terkait IRGC tidak akan diizinkan menginjakkan kaki di AS. Piala Dunia bukan alasan untuk melonggarkan aturan itu,” tegasnya.
Analisis Dampak: Kebijakan ini menimbulkan preseden buruk dalam dunia olahraga. Para pemain Iran dipaksa menjalani jadwal padat tanpa pemulihan yang layak, berisiko cedera dan menurunkan kualitas pertandingan. Selain itu, langkah AS ini memicu ketegangan diplomatik baru. Iran bisa saja menganggap perlakuan ini sebagai bentuk diskriminasi politik yang menodai semangat sportivitas Piala Dunia. Media internasional pun menyoroti bagaimana perang AS-Israel dengan Iran ikut merembet ke panggung olahraga global.