WASHINGTON DC — FBI berhasil menggagalkan rencana serangan teror yang menargetkan acara UFC yang digelar di halaman selatan Gedung Putih pada Minggu lalu. Kepala FBI Kash Patel mengonfirmasi bahwa beberapa tersangka telah diamankan dalam operasi multi-negara bagian.
Patel menyebut rencana serangan itu 'dihentikan secara dingin' dalam unggahan di media sosial, Selasa (21/1) pagi waktu setempat. Menurut sumber yang dikutip CBS News, serangan direncanakan menggunakan drone yang diisi bahan peledak untuk menyerang gedung-gedung di sekitar lokasi acara.
Investigasi mengungkapkan bahwa para pelaku berencana menggunakan drone untuk memicu kepanikan dan mengarahkan kerumunan yang melarikan diri menuju tim penembak jitu. Sumber juga menyebut adanya rencana 'gelombang kedua' untuk menyerbu gerbang Gedung Putih setelah kekacauan terjadi.
Seorang tersangka ditangkap di Cincinnati pekan lalu. Penyidik juga berhasil mengakses chat Signal di mana beberapa orang diduga mendiskusikan rencana tersebut. Dinas Rahasia AS (Secret Service) menyatakan bekerja sama penuh dengan FBI dan akan memberikan pernyataan resmi melalui dokumen pengadilan.
Acara UFC yang digelar di halaman selatan Gedung Putih merupakan bagian dari perayaan 250 tahun kemerdekaan AS dan bertepatan dengan ulang tahun ke-80 Presiden Donald Trump. Beberapa anggota kabinet dan selebriti hadir dalam acara tersebut.
Analisis: Kegagalan plot ini menunjukkan kerentanan keamanan di area Gedung Putih, terutama saat acara besar. Penggunaan drone sebagai senjata menjadi ancaman baru yang sulit dideteksi. Keberhasilan FBI mengakses komunikasi terenkripsi Signal juga menjadi sorotan, memicu perdebatan tentang keseimbangan antara privasi dan keamanan nasional.