Jakarta, Media Online – Sebuah investigasi terbaru dari BBC Verify mengungkap fakta mengejutkan: Iran telah melumpuhkan sedikitnya 20 fasilitas militer Amerika Serikat sejak konflik pecah. Temuan ini didapat dari analisis citra satelit dan video yang diverifikasi, menunjukkan skala serangan balasan Teheran jauh lebih besar dari yang diakui publik oleh Pentagon.
Serangan yang dimulai sejak akhir Februari lalu ini menyasar pangkalan-pangkalan kunci AS di delapan negara Timur Tengah. Bukan hanya pangkalan militer biasa, Iran juga menghantam fasilitas bersama yang digunakan oleh koalisi pimpinan AS. Akibatnya, kerugian material diperkirakan mencapai miliaran dolar AS. Beberapa aset paling mahal yang hancur adalah tiga unit sistem pertahanan rudal balistik canggih THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) yang ditempatkan di pangkalan udara Al Ruwais dan Al Sader di Uni Emirat Arab (UEA), serta Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.
Menurut analis militer, setiap baterai THAAD berharga sekitar 1 miliar dolar AS atau setara Rp15 triliun. Sistem ini sangat kompleks dan membutuhkan sekitar 100 personel untuk mengoperasikannya. Mantan Kepala Angkatan Pertahanan Irlandia, Wakil Laksamana Mark Mellett, menyebut kerusakan ini sebagai pukulan telak karena sistem pertahanan regional yang 'sangat rumit' ini tidak bisa diganti dengan cepat atau mudah.
Tak hanya sistem pertahanan, serangan Iran juga menghantam pesawat pengintai dan pengisian bahan bakar di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi. Citra satelit menunjukkan kawah bekas ledakan dan pesawat yang hangus terbakar. Analis mengidentifikasi salah satu pesawat yang hancur adalah E-3 Sentry, pesawat peringatan dini udara yang sangat vital bagi operasi AS.
Yang menarik, Gedung Putih selama ini terus mengklaim bahwa kekuatan militer Iran hampir habis. Namun, bukti di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Serangan balasan Iran dinilai sangat presisi dan ekstensif. Menanggapi temuan ini, seorang pejabat pertahanan AS menolak berkomentar dengan alasan 'keamanan operasional'. Lebih jauh, AS dikabarkan meminta perusahaan satelit komersial Planet untuk membatasi akses gambar terbaru Iran dan sebagian besar Timur Tengah secara 'indefinite' atau tanpa batas waktu, guna mencegah citra tersebut digunakan oleh pihak lawan.