Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali menyuarakan seruan penting di panggung global. Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia Davos, ia mendesak negara-negara Eropa untuk menunjukkan keberanian dan persatuan yang lebih besar, serta berani tampil sebagai kekuatan global yang mandiri.
Zelenskyy secara lugas mengingatkan bahwa ketergantungan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pada Amerika Serikat kini berada dalam posisi yang rapuh. Ia menyoroti ancaman rudal Rusia yang terus meluas, serta ketegangan geopolitik terbaru, termasuk isu terkait Greenland, sebagai alarm bagi benua biru.
Desakan ini bukan tanpa alasan. Ukraina, yang kini berjuang menghadapi invasi Rusia, merasakan langsung pentingnya pertahanan kolektif dan kemandirian strategis. Jika Eropa mampu bersatu dan bertindak sebagai kekuatan global yang kohesif, ini bisa menjadi penentu arah baru dalam peta politik dunia. Eropa tak hanya akan lebih siap menghadapi ancaman regional, namun juga punya daya tawar lebih kuat di kancah internasional tanpa selalu menggantungkan diri pada Washington.
Gagasan “otonomi strategis” Eropa telah lama menjadi perbincangan, terutama didorong oleh negara-negara seperti Prancis dan Jerman. Peringatan Zelenskyy di Davos ini semakin menguatkan urgensi bagi Eropa untuk benar-benar merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan pertahanan serta luar negeri yang lebih independen. Langkah ini bisa berarti peningkatan investasi pertahanan, pengembangan kapabilitas militer sendiri, hingga pembentukan konsensus politik yang lebih solid di antara anggotanya untuk menjaga stabilitas dan kepentingannya di tengah dinamika global yang tak menentu.