Gelombang demonstrasi besar kembali mewarnai politik Pakistan. Ribuan pendukung mantan Perdana Menteri Imran Khan, yang saat ini mendekam di penjara, memulai long march dari wilayah barat laut menuju Islamabad pada Minggu (6/10). Aksi ini dilakukan setelah perundingan dengan pemerintah gagal mencapai kata sepakat.
Lebih dari 5.000 orang dilaporkan bergabung dalam rombongan yang digagas partai Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI). Awalnya, aksi ini dijadwalkan 27 September lalu, namun ditunda hingga 4 Oktober untuk memberi ruang dialog. Sayangnya, dua putaran perundingan akhir pekan kemarin justru menemui jalan buntu, membuat PTI nekat melanjutkan rencana mereka.
Tujuan utama aksi ini adalah menekan pemerintah agar membebaskan Khan, tokoh politik paling populer versi survei di Pakistan. Khan telah dipenjara sejak Agustus 2023 akibat serangkaian vonis yang dianggap partainya bermuatan politik. Menariknya, hampir semua vonis tersebut kini telah ditangguhkan atau dibatalkan di tingkat banding.
Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam. Ia menuduh pihak oposisi sengaja menggagalkan negosiasi dan berjanji akan menindak tegas para pelanggar aturan. Pemerintah telah menyiapkan ribuan kontainer pelabuhan untuk memblokir jalur utama menuju ibu kota, merujuk pada putusan Pengadilan Tinggi Islamabad yang melarang pendudukan jalan raya dan fasilitas publik.
Analisis Dampak: Situasi ini berpotensi memicu bentrokan fisik antara aparat keamanan dan massa yang frustrasi. Bagi masyarakat umum, blokade jalur logistik di Punjab dan Islamabad dapat mengganggu aktivitas ekonomi harian dan mobilitas warga. Isu kesehatan Khan yang mengkhawatirkan (khususnya mata kanannya) menjadi pemicu emosional yang membuat massa semakin solid, menciptakan ketegangan politik yang sulit diprediksi dalam beberapa hari ke depan.