Tirana, Albania - Gelombang protes mahasiswa di Albania memasuki hari ketiga dengan situasi yang semakin panas. Aksi demonstrasi di ibu kota Tirana berubah menjadi kerusuhan setelah massa membakar sejumlah bangunan penting, termasuk kantor Perdana Menteri Edi Rama dan gedung kementerian.
Mahasiswa turun ke jalan bukan tanpa alasan. Mereka geram dengan biaya pendidikan yang mencekik dan masa depan pekerjaan yang suram setelah lulus. Meski Perdana Menteri Edi Rama menegaskan tidak akan mundur, massa semakin beringas. Polisi terpaksa menembakkan gas air mata dan water cannon untuk membubarkan kerumunan, menyebabkan puluhan orang luka-luka.
Pengamat politik setempat menilai protes ini adalah puncak dari akumulasi kekecewaan yang dipendam selama berbulan-bulan. Selama ini, suara mahasiswa seolah diabaikan, bahkan pemerintah cenderung melakukan kampanye hitam daripada berdialog. Situasi ini diperparah dengan tuduhan korupsi di tubuh pemerintahan Rama serta proyek pembangunan resor mewah di pesisir selatan yang dianggap merusak lingkungan dan tidak pro-rakyat.
Fenomena ini juga sejalan dengan gelombang protes pelajar di Eropa, seperti di Prancis, yang menuntut fasilitas sekolah yang layak. Bagi Albania, yang tengah berjuang mengejar standar hidup Uni Eropa, ketidakstabilan ini menjadi tamparan keras. Ekonomi memang tumbuh, tapi kesenjangan dan lambatnya integrasi Eropa membuat frustrasi warga semakin memuncak.